Jobless

Berapa orang di dunia ini yang lebih memilih jadi burung ketimbang jadi manusia? Jelas saja, burung tak perlu mencuci ban kotor setelah bepergian di hari hujan, tak perlu bayar hutang, tak perlu antri saat di ATM, tak perlu pusing mikirin tagihan.

Burung cuma perlu tempat berpijak sejenak, meluruskan kaki-kaki kecilnya lalu berterbangan lagi mengacak-ngacak angkasa.

Gayung pun bersambut. Hari ini “Asosiasi Burung Sejagat” buka lowongan. Mereka mencari tenaga-tenaga baru buat bermacam-macam posisi. Mengantarkan surat, jadi sasaran tembak pemburu, dan yang paling aku suka, bermain-main dengan orang-orangan sawah. Sungguh pekerjaan yang menyenangkan.

Wawancaranya walk-in interview, bawa CV lengkap dengan portfolionya. Di ruang tunggu hati jantung saya berdegup kencang sambilo menerka-nerka pertanyaan apa yang akan diberikan. “Jangan lupa, tatap matanya dan pastikan jawaban yang keluar bernada positip” begitu saran seorang teman sebelum berangkat tadi.

Seseorang baru saja keluar dari ruangan interview, wajahnya berseri-seri. Itu berarti ancaman buat karir saya. Saya sangat menginginkan pekerjaan ini. Masih 3 orang lagi mengantri di depan saya, dan tak kan saya biarkan satupun keluar dari ruangan itu dengan wajah berseri-seri lagi.

”Mau cokelat, pak? Lumayan daripada iseng menunggu” saya menawari mereka dengan ramah.

”Wah, terima kasih” jawab mereka bertiga.

Saya pun menghitung detik di jam tangan saya. Tepat di detik ke 139, ketiganya kontan ngacir ke kamar mandi dengan terbirit-birit. Obat pencuci perut saya mulai bekerja. Saya pun tertawa lepas sendirian di ruang tunggu itu.

Sekarang saya sedang menatap tajam ke dalam matanya. Semua jawaban yang telah keluar bernada positip. “Saya berhasil” bergumam dalam hati.

Sampai pada pertanyaan terakhir.

“Bruuuk” tiba-tiba tubuh saya terlempar dari ruangan, terjatuh duduk. Saya mencoba bangun, membersihkan noda di kemeja saya. Masih terlihat nada kesal di mata pewawancara itu.

”Huuuuu, mau jadi burung kok takut terbang”
”DAMN, saya lupa”

Saya pun tertunduk lesu, berharap esok hari masih ada lowongan untuk jadi ikan atau kelelawar. Tapi saya sadar, saya tak bisa berenang dan takut gelap.

[bawang goreng]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s