Demam Singapura Menyelimuti Kota Malang

alongIni adalah artikel yang ditulis oleh Gary Liem, wartawan Singapura dan didedikasikan untuk duo Singapura yang selama ini bermain di Arema Indonesia, artikel ini diterjemahkan secara bebas oleh salah satu anggota Aremania Kaskus, Ditya Arifanda (id Johny.Walker)

Tidak biasanya Arema Indonesia melejit di puncak klasemen sementara ISL, hal itu membuat para pendukungnya seolah-olah bisa meraih mimpi yang selama ini telah mereka idam-idamkan.
Hal itu juga membuat status 2 orang pemain asing asal Singapura, yaitu Noh Alam Shah dan Muhammad Ridhuan menjadi sangat populer.

Pertama kali mereka datang, masih ada keraguan. Bermain di luar negeri untuk pertama kalinya, Noh Alam Shah dan Muhammad Ridhuan diharapkan bisa menampilkan kemampuan terbaiknya, namun mereka juga telah siap untuk kemungkinan yang terburuk.

Sekarang, duo Singapura itu tidak perlu merasa khawatir, mereka telah menjadi hit di pentas ISL. Mereka berdua tidak pernah bisa berjalan-jalan dengan tenang di kota Malang tanpa dikelilingi banyak orang.

Gantungan kunci, t-shirt dan topi dengan nama mereka di toko-toko suvenir, telah terjual laris seperti sepotong cake yang masih panas. Setiap kali mereka mengunjungi mall-mall di kota Malang –meskipun dalam waktu yang singkat-, selalu berubah menjadi acara jumpa fans, dan para fans harus memanfaatkan waktu yang sedikit untuk mendapatkan kesempatan berfoto ria dengan idola mereka. Jadi, kedua pemain itu seringkali memakai topi, atau memakai jaket-hoodie mereka untuk menutupi kepala, agar tidak dikenali oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.

Pacar Selebritis

Jika anda merasa hal itu sedikit konyol, anda harus tau jika Ridhuan sekarang telah memacari seorang selebriti Indonesia dalam kurun waktu sekitar 4 bulan ini.

Hidup seolah tidak pernah seindah ini bagi duo Singapura itu.

Pemain berusia 29 tahun, Noh Alam Shah, berkata, ”Aku baru saja pulang dari mall. Aku tadi berdiri di tengah-tengah para fans untuk melayani permintaan foto mereka. Setelah 15 menit, aku bisa melihat kalau istriku merasa tidak nyaman, pada akhirnya aku harus menyadarinya. Tapi hal ini tidak akan pernah berhenti.”
“Aku sangat jarang pergi keluar rumah, kecuali ada urusan yang benar-benar penting. Tapi aku merasa hal itu lebih baik daripada tidak dikenali orang sama sekali kemanapun aku pergi.”
“Kalau anda merasa hal itu buruk, tunggulah sampai anda ngobrol dengan Ridhuan.”
“Ketika kami pergi dengan bus klub di hari pertandingan, gadis-gadis sekolah akan mengerubuti Ridhuan dan menjerit histeris, bahkan ada yang sampai menangis!”

Bisa dimaklumi, kepopuleran Ridhuan benar-benar meroket sejak kehadirannya di kota Malang yang memiliki populasi penduduk kurang lebih 1,2 juta jiwa.

Masih 25 tahun dan single, Ridhuan memiliki kurang lebih 7.500 fans di halaman fan Facebooknya. Seringkali dia pulang ke rumah dan melihat ada sekitar 10 orang fans menunggunya di depan pintu rumah.

Dia sangat menikmati hal itu, namun konsekuensinya adalah dia kehilangan banyak privasi. Kadang dia berharap untuk bisa shopping dengan kekasihnya tanpa ada gangguan –dia memacari seorang gadis berusia 21 tahun, seorang presenter olahraga di salah satu stasiun TV di Indonesia-.

Ridhuan yang berusaha menyembunyikan identitas kekasihnya selama 4 bulan ini berkata, “Anda tau, sangat sulit untuk kencan dengan kekasihku dalam keadaan seperti ini.”
“Dia dari Bali, tapi sekarang sedang kuliah di Malang, dia juga seorang presenter acara olahraga di ANTV.”

Penguntit

“Beberapa fans mengikutiku saat aku dalam perjalanan pulang. Mereka mengikuti mobilku, dan berusaha memotretku dari luar. Beberapa orang juga menanyakan nomor ponselku.”
“Terakhir kali mengecek akun Facebook-ku, aku melihat ada 1.000 ‘friend request’. Luar biasa.”
“Aku menikmatinya, tapi terkadang, aku tidak menginginkannya.”

Perhatian yang berlebihan bisa menjadi masalah.
Ridhuan tahu itu, dia harus tetap rendah hati dan berusaha agar tidak besar kepala.
Dia berkata,”Ini adalah sebuah pengalaman hebat yang akan kukenang sampai aku mati.”
“Tapi aku berkata pada diriku : Aku mungkin sangat populer disini, tapi suatu saat jika aku kembali ke Singapura nanti, semuanya akan kembali normal.”

Ridhuan menganggap Alam Shah seperti kakaknya sendiri.
Pelatih Arema, Robert Alberts, telah mengutus Noh Alam Shah untuk selalu mengingatkan Ridhuan agar tetap rendah hati.

Alam Shah berkata,”Itu hal yang lumrah bagi seorang pemain muda seperti Ridhuan. Alberts ingin agar aku menjaganya. Aku berusaha untuk melakukan yang terbaik. Jika dia bermain buruk, aku akan mengingatkannya.”
“Aku menelponnya hampir setiap jam 10 malam untuk memastikannya ada di rumah. Tapi dia tahu apa yang harus dilakukannya lah…”

Hal Yang Membuat Para Fans Tergila-gila

Malang berjarak sekitar 1.400 km dari Singapura, tapi anda bisa melihat bendera Singapura berkibar di Stadion Kanjuruhan di setiap pertandingan kandang Arema Indonesia.
Ini membuat anda berpikir bahwa itulah salah satu bentuk kecintaan fans kepada duo Singapura, Noh Alam Shah dan Muhammad Ridhuan.

Alam Shah berkata,”Setiap kali aku mencetak gol, aku akan berlari ke arah bendera Singapura yang ada di stadion untuk menghormatinya.”
“Ya, fans selalu mengibarkan bendera Singapura di setiap pertandingan kandang kami. (Bendera) itu berukuran sekitar 5×3 meter besarnya.”
“Sebetulnya, itu adalah bendera Indonesia. Tapi fans telah menambahkan bulan sabit dan lima buah bintang untuk membuatnya menjadi bendera Singapura.”
“Meskipun Singapura dan Indonesia adalah rival di kawasan Asia Tenggara. Tapi fans bisa menerima kita.”

Ridhuan, yang sedang menikmati popularitasnya, menceritakan sebuah insiden yang mengerikan.
Seorang wanita hamil jatuh terpeleset ketika dia berlari keluar dari kamar mandi untuk melihat sebuah koran yang di salah satu halamannya terdapat poster Muhammad Ridhuan berukuran besar.
Dia berkata, “Wanita itu sudah tahu kalau ada poster besarku pada koran yang terbit di hari itu.”
“Tapi dia sedang mandi saat loper koran mengantar koran ke rumahnya.”
“Jadi, ia bergegas mengganti bajunya, dan ketika lari keluar dari kamar mandi, ia jatuh. Dia dibawa ke rumah sakit, dan bayinya lahir di malam itu juga.”
“Sungguh mukjizat, keduanya (Ibu dan bayi, red.) selamat.”
“Yang paling lucu adalah, ada namaku pada gelang identitas pasien (rumah sakit) yang dikenakannya.”

Pergi ke stadion pada saat hari pertandingan juga bisa menjadi hal yang menyeramkan.
Pengawalan Polisi

Bus tim Arema Indonesia selalu dikawal oleh kepolisian untuk mempersingkat waktu perjalanan. Walaupun demikian, hal itu tidak menghentikan para fans untuk mendekati bus tim hanya untuk sekedar melihat pemain idolanya dari balik jendela, atau sekedar memotret, bukan hal yang mudah untuk melakukan itu semua, karena sebagian besar dari mereka mengendarai sepeda motor.

Alam Shah yang pada saat itu berusaha untuk bisa berhenti tertawa bercerita,”Kami semua berada dalam bus. Dan aku melihat ada orang berboncengan mengendarai sepeda motor berada di sebelah kanan bus.”
“Aku melambaikan tangan kepadanya, dan dia sangat terkejut. Dia mengatakan sesuatu pada pemboncengnya yang akhirnya juga menoleh kepadaku.”
“Saking senangnya, dia kehilangan kontrol pada sepeda motornya dan menabrak pohon.”
“Setelah itu, mereka langsung bangkit dan seperti tidak terjadi apa-apa. Kami melihat mereka tertawa dan mengacungkan dua jempol kepadaku.”
“Sungguh luar biasa.”

Meskipun pergi ke stadion dengan naik truk tidak menjamin keselamatan para suporter, tapi mereka melakukannya.
Alam Shah berkata,”Di kesempatan lain, aku melihat beberapa orang naik ke bak truk terbuka, dan mengibarkan bendera Arema Indonesia.”
“Mereka gembira bisa melihat pemain favorit mereka yang ada di dalam bus.”
“Dan ketika mereka melakukannya, tiba-tiba truk mengerem mendadak, seketika semua orang yang ada di bak truk itu jatuh saling bertumpukan.”

Garry Lim (TNP – 19/4/2010)
Renungan penulis:
– Indonesia memiliki kultur sepakbola yang berbeda dengan kita (Singapura), aku berpikir, mereka lebih gila daripada fans berat klub-klub sepakbola Eropa. Mungkin mereka bisa disamakan dengan para fans klub-klub sepakbola Amerika Latin. Bukan sebuah hal yang kusuka dan bisa dicerna dengan akal sehat, meskipun akhirnya aku berpikir bahwa fokus artikel ini adalah bagaimana kegilaan mereka untuk datang ke stadion untuk mendukung timnya.
– Jika Ridhuan bisa bermain baik untuk Arema, tapi kenapa Ridhuan tidak bisa melakukannya untuk timnas Singapura?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s