Gajayana menurut Naskah Wangsakerta

Leluhur Keling berasal dari India, yaitu Raja Bhanu yang memerintah kerajaan Kalingga di Bhumi Bharata, India. Ia memerintah Kalingga selama 39 tahun (580-619). Bhanu digantikan oleh putranya yang bernama Kirathasingha yang beristrikan Dewi Wasundari dan memerintah Kalingga di India selama 13 tahun (619-632). Dewi Wasundari adalah putri Prabhu Wasumurti dari kerajaan Keling di Jawa Timur (595-606). Tidak jelas kemudian apa yang terjadi, ternyata kemudian Kirathasingha menjadi raja di Jawa dan berkuasa selama 16 tahun (632-648). Di Jawa ia digantikan oleh putranya Kartikeyasingha atau Sang Mokteng Mahamerwacala yang memerintah selama 26 tahun (648-674). Kartikeyasingha memiliki dua orang istri, pertama Dewaniloka putri dari raja Kalingga di India. Dari istrinya ini ia berputra Sang Bhuswara yang menjadi raja Kalingga (632-658) di Bhumi Bharata. Istri kedua Kartikeyasingha yaitu Wasuwari atau Dewi Sima adalah putri Prabhu Wasugeni dari kerajaan Keling di Jawa Timur.

Prabhu Wasugeni memerintah Keling selama 27 tahun (606-632). Wasugeni beristri Dewi Paramita, putri raja Pallawa di India dan berputra Prabhu Wasudewa yang memerintah selama 20 tahun (632-652). Dari perkawinannya dengan Dewi Sima ia memiliki dua orang anak, yaitu Dewi Parwati yang kemudian diperistri oleh Rahyang Mandiminyak raja Galuh (702-709), dan Narayana yang menikah dengan putri Jayasinghanagara yang berasal dari daerah Jawa Timur. Ketika baru memerintah selama delapan tahun, Kartikeyasingha telah menjalin hubungan persahabatan dengan Cina dan sering mengirim utusan ke sana. Setelah meninggal, Kartikeyasingha digantikan oleh istrinya, Dewi Sima yang bergelar Sri Maharani Mahisasuramardini Satyaputikeswara dan berkuasa selama 21 tahun (674-695). Setelah meninggal Kartikeyasingha dijuluki Sang Lumah i Mahameru (yang wafat di Gunung Mahameru).

Dewi Sima terkenal sebagai perempuan yang cantik jelita. Kartikeyasingha dari pihak ibunya masih turunan raja Malayu, karena ibunya adalah adik raja Malayu yang dikalahkan dan dibunuh oleh Sri Jayanasa dari Sriwijaya. Sri Jayanasa rupanya mengetahui kejelitaan janda yang berkuasa di Keling itu. Ia jatuh cinta dan melancarkan usaha perkawinan politik untuk melebarkan kekuasaannya di Nusantara. Usaha itu ditampik oleh Dewi Sima, bahkan ia bertekad lebih baik mati berkalang tanah daripada sudi diperistri oleh Sri Jayanasa. Sima tidak suka akan sifat agresif Sriwijaya, apalagi karena salah seorang korbannya adalah uaknya sendiri, raja Malayu. Karena penolakan itu, Sriwijaya mencoba menggunakan jalan kekerasan. Pada 686 Sriwijaya bermaksud menyerang Keling, tetapi ternyata hal itu tidak pernah terlaksana. Salah satu penyebabnya adalah karena Jawa (Keling) mempunyai banyak sekutu, di antaranya Cina, Bakulapura, Hujungmedini, dan bahkan India. Bahkan kerajaan Sunda yang tahun sebelumnya menandatangani perjanjian dengan Sriwijaya pun tidak menyetujui maksud Sriwijaya itu. Karena usaha kekerasan itu menghadapi rintangan, Sriwijaya mengalihkan keganasannya di daerahnya sendiri. Perahu orang Jawa yang berlabuh di Palembang, Bangka, dan bandar Sriwijaya yang lain dirampas dan para pemiliknya diusir atau bahkan dibunuh.

Sepeningggal Dewi Sima (695), kerajaan Keling terpaksa dibagi dua. Bagian barat yang terkenal sebagai Bhumi Mataram dikuasai oleh Dewi Parwati Tunggalpratiwi bersama suaminya, Mandiminyak, sedangkan bagian timur yang terkenal sebagai Bhumi Sambhara dikuasai oleh Rakryan Narayana. Adiknya, Rakryan Narayana atau Prabhu Iswarakesawalingga Jagatnata Bhuwanatala, menjadi raja Keling selama 47 tahun (695-742). Dalam perjanjian dengan Sanjaya disepakati batas kerajaan Narayana adalah sebelah timur Paralor Progo dan Cilotiran. Ia digantikan oleh Rakryan Dewasingha atau Prabhu Iswaralingga Jagatnata yang memerintah selama 18 tahun (742-760). Dewasingha mempunyai dua orang anak, yang laki-laki bernama Limwana atau Prabhu Gajayanalingga Jagatnata dan yang perempuan bernama Dewi Sudhiwara yang kemudian diperistri oleh Rahyang Sanjaya.

Pada tahun 754 pusat pemerintahan kerajaan Keling dipindahkan ke Jawa Timur, istananya diberi nama Linggapura. Dewasingha kemudian digantikan oleh anaknya, Rakryan Limwana atau Gajayanalingga Jagatnata yang berkuasa selama 29 tahun (760-789). Gajayana beristrikan Dewi Setrawati, anak pribumi desa Kanjuruhan. Di desa itu Gajayana mendirikan istana dan sejak itu pusat pemerintahan pindah ke Kanjuruhan.

Gajayana memiliki putri bernama Satyadarmika yang menikah dengan dyah Sangkhara atau Rakai Panangkaran Sri Maharaja Tejahpurnapana Panangkarana, raja Mataram di Jawa Tengah (754-782). Dari pernikahan itu lahirlah dyah Panunggalan. Rakai Panunggalan yang nama nobatnya Rakai Panunggalan Bhimaparakrama Linggapawitra Jawabhumandala berkuasa di bagian utara Jawa, yaitu di daerah Mamratipura (Medang) selama 18 tahun (782-800). Mungkin raja inilah yang menyatukan Kanjuruhan dengan Mataram, sepeninggal Gajayana yang wafat tahun 789. Hal itu dilihat dari namanya Panunggalan, yang berarti ‘penyatuan’. [ant]

sundakala

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s