Kemelut di Istana Singhasari Pada Tahun 1248

anusapatiSepeninggal Sang Rajasa Amurwabhumi (Ken Angrok) yang dibunuh atas suruhan Anusapati, Anusapati menjadi raja di Tumapel. Menurut Pararaton: Kemudian Anusapati menggantikannya (Ken Angrok) sebagai ratu pada tahun Saka 1170 (1248). Konon kabarnya tidak lama kemudian Raden Tohjaya, putra Ken Angrok dari rabi anom-nya (istri muda), mengetahui sampai terperinci, bagaimana Anusapati menyogok orang dari Bathil supaya membunuh Sang Amurwabhumi. Sang Apanji Tohjaya tidak puas dengan pembunuhan ayahnya, ia berusaha supaya dapat membalas dendam dengan jalan apa saja yang dapat membawa kematian Anusapati. Anusapati mengetahui bahwa ia sedang dijadikan target pembunuhan oleh Panji Tohjaya, maka sang Anusapati menyuruh menggali sebuah saluran air di sekeliling peraduannya dan di halamannya diadakan penjagaan oleh orang yang dapat dipercayainya.

Setelah beberapa waktu, sang Apanji Tohjaya mendatangi Anusapati dengan seekor ayam sabungan. Katanya, “Kakanda, ayah mempunyai keris yang dibuat oleh Gandring, berikanlah itu pada saya, Kanda.” Nyatalah, bahwa ajal Bhatara Anusapati telah tiba. Keris buatan Gandring itu diberikan oleh sang Anusapati, lalu diterima oleh Panji Tohjaya dan disisipkannya di pinggangnya. Keris yang dipakainya dulu diberikannya kepada salah seorang pengiringnya. Kemudian ia berkata, “Marilah Kanda, kita menyabung ayam.” Jawab sang Anusapati, “Baiklah, Dinda.” Ia menyuruh juru kurungnya mengambil seekor ayam jantan, sambil berkata, “Marilah, Dinda! Sekarang saja kita mulai.” “Baiklah,” kata Panji Tohjaya. Kedua ayam itu masing-masing diberi taji oleh mereka. Kedua ekor ayam itu sungguh seimbang keberaniannya. Sang Anusapati sangat asyik memandangnya. Nyatalah bahwa ajalnya telah tiba, ketika ia sedang asyik memperhatikan pertarungan itu, ditikamlah ia oleh Panji Tohjaya.

Menurut Pararaton, wafatnya Anusapati bertarikh tahun Saka 1171 (1249 M) dan dimakamkan di Kidal. Kakawin Nagarakertagama lebih singkat pemberitaannya. Dikatakan bahwa “Bhatara sang Anusanatha, putra baginda, menggantikannya. Selama beliau bertahta di dunia, teguhlah keamanan di negeri Jawa. Pada tahun Saka 1170 (1248 M) mangkatlah Bhatara, pulang ke Indrabhawana (surga Siwa). Ia diwujudkan sebagai arca Siwa dalam suddharma (candi) di Kidal.” Candi Kidal itu letaknya di sebelah tenggara Kota Malang. Ketika diselidiki ternyata bahwa di halaman candi itu terdapat baik peninggalan-peninggalan yang bersifat Hindu maupun bersifat Buddha. Arca Anusapati dalam wujud Siwa tidak ada lagi di dalam bilik candi. Tetapi menurut Schnitger dalam BKI tahun 1932, mengulas sebuah arca yang sekarang disimpan di Museum Royal Tropical Institute di Amsterdam (Belanda). Ia menyatakan bahwa arca tersebut adalah arca perwujudan raja Anusanatha (Anusapati). Bernet Kempers dalam keterangannya juga menyebutkan bahwa arca Siwa ini berasal dari Candi Kidal. Menurut Pararaton, Tohjaya bertahta dari tahun 1171-1172 Saka (1249-1250 M), tetapi menurut Nagarakertagama Anusapati mangkat pada tahun 1170 Saka (1248 M) dan digantikan oleh Wisnuwarddhana.

Apanji Tohjaya menggantikan Anusapati sebagai raja di Tumapel. Anusapati mempunyai anak bernama Rangga Wuni dan kemenakan dari Panji Tohjaya. Sedangkan Mahisa Wonga Teleng adalah saudara Panji Tohjaya, dari satu ayah lain ibu mempunyai anak bernama Mahisa Campaka. Ketika Panji Tohjaya dinobatkan sebagai raja, para menteri menghadap, terutama ialah Pranaraja. Demikian pula Rangga Wuni dan Mahisa Campaka. Akhirnya Tohjaya berkata, “Hai, para menteri terutama Pranaraja, lihatlah keponakanku itu. Apakah daya musuhku di Nusantara (pulau-pulau lain) bila dilawan oleh kedua orang ini, Pranaraja?” Pranaraja mengakui bahwa kedua orang itu gagah dan berani, tetapi mereka dibandingkannya dengan sebuah bisul di pusar yang akhirnya pasti akan membawa maut. Raja mengerti peringatan tersebut. Ia tertegun sebentar, dan bertambah marahlah hatinya. Lalu ia memanggil Lembu Ampal. Baginda hendak melenyapkan mereka. Diancamnya Lembu Ampal dengan perkataan, “Seandainya kau tak berhasil membunuh kedua pangeran itu, engkau akan kubunuh.”

Tetapi perkataan itu terdengar oleh seorang brahmana yang menjadi seorang pedanda di istana Tohjaya. Kedua pangeran itu diberitahunya. Dianjurkannya supaya mereka bersembunyi. Tetapi mereka masih ragu, apakah benar perkataan sang brahmana itu. Karena itu mereka pergi kepada Panji Patipati dan berkata, “Panji Patipati, kami hendak bersembunyi di rumah, Tuan. Karena baginda hendak membunuh kami dan kami sebenarnya tidak berbuat apa-apa, tetapi kami akan dibunuh.” Panji Patipati menyelidiki kebenaran kabar tersebut. Kemudian dikatakannya kepada kedua pangeran itu bahwa memang mereka hendak dibunuh dan bila mereka tidak terbunuh, maka Lembu Ampal sendiri yang akan dibunuh. Maka kedua pangeran itu dengan diam-diam bersembunyi. Mereka dicarinya tetapi tak bertemu.

Lembu Ampal dicurigai oleh raja bahwa ia bersekongkol dengan kedua pangeran itu. Lembu Ampal hampir terbunuh, ia melarikan diri ke rumah tetangganya yaitu Panji Patipati sendiri. Di situ ia berjumpa dengan kedua pangeran itu. Lembu Ampal segera menghadap Rangga Wuni seraya ia berkata, “Saya datang kemari minta perlindungan kepada sang raden. Karena saya tidak berhasil menyirnakan paduka berdua, maka saya disalahkan oleh sang raja dan harus menjalani hukuman mati. Lebih baik saya mengabdi kepada paduka. Saya berjanji akan setia kepada paduka. Jika paduka tidak percaya, saya berani bersumpah!” Setelah Lembu Ampal diambil sumpahnya, dua hari kemudian ia datang menghadap kedua pangeran itu seraya berkata, “Tidak ada gunanya bersembunyi di sini. Saya akan menusuk prajurit Rajasa yang sedang buang air besar.”

Keesokan harinya, Lembu Ampal melaksanakan kehendaknya itu dengan menusuk prajurit Rajasa yang sedang membuang air besar. Ketika orang membuat ribut ia melarikan diri ke tempat orang Sinelir. Dengan demikian timbul dugaan bahwa orang Sinelir-lah yang membunuh orang Rajasa. Dua hari kemudian, Lembu Ampal menusuk orang Sinelir lalu melarikan diri ke kampung prajurit Rajasa. Kedua satuan pengawal ini saling mencurigai, yang berakhir dengan suatu perkelahian dan beberapa orang mati. Raja Tohjaya hendak mengusir mereka dengan kekerasan, tetapi mereka tak mau menurutinya. Kemudian Tohjaya menyuruh membunuh kedua pemimpin pasukan itu. Kini kedua belah pihak itu marah kepada raja karena mereka merasa diri mereka disalahkan.

Lembu Ampal segera mendekati kedua pimpinan pasukan tersebut, dan menganjurkan supaya keduanya mencari perlindungan kepada Rangga Wuni dan Mahisa Campaka sebelum mereka dibunuh oleh Sang Raja. Ajakan Lembu Ampal diikuti oleh orang-orang itu dan mereka lalu menghadap kedua pangeran tersebut untuk meminta perlindungan. Setelah mereka disumpah, lalu mereka diperintahkan pulang agar mempersiapkan pasukannya masing-masing untuk menyerbu ke istana. Pada waktu senja hari, orang Sinelir dan orang Rajasa telah siap lengkap dengan senjata, berkumpul di rumah Panji Patipati. Dari situ, mereka bergerak serentak menyerbu istana. Tohjaya terkejut melihat kedatangan tentara musuh, lalu melarikan diri. Namun ia terkena tusukan tombak sehingga tidak dapat berjalan.

Setelah huru-hara reda, Tohjaya dicari oleh para pengikutnya lalu diungsikan dengan menggunakan tandu ke Katanglumbang. Di tengah jalan, salah seorang pemikul tersebut terlepas kainnya sehingga kelihatan pantatnya. Raja memerintahkan kepadanya agar mengikatkannya karena belakangnya kelihatan. Menurut kepercayaan pada waktu itu, raja yang dibelakangi tidak akan lama hidupnya. Sesampainya di Katanglumbang, Tohjaya meninggal dan dicandikan di Katanglumbang. Peristiwa itu, menurut Pararaton, terjadi pada tahun Saka 1172 atau 1250 M. Tentang kematian Tohjaya itu ada dua versi yang berbeda yaitu dalam Pararaton yang berbentuk prosa dan Pararaton yang berbentuk kidung. Di dalam Pararaton yang berbentuk prosa menceritakan bahwa pada waktu pasukan Rajasa dan pasukan Sinelir menyerbu istana pada waktu malam, Tohjaya tertombak tetapi tidak meninggal. Lalu ia dilarikan oleh hambanya keluar istana di waktu malam dalam usungan. Di tengah jalan salah seorang di antara hambanya itu lepas kainnya, dan pantatnya terlihat oleh rajanya. Karena melihat pantat itulah Tohjaya tidak lama menjadi raja. Sedangkan di Pararaton yang berbentuk kidung memberikan uraian yang lebih mendekati kenyataan. Setelah mendapat serangan pasukan Rajasa dan Sinelir, Tohjaya sempat melarikan diri dengan naik kuda. Ia dikejar oleh musuh-musuhnya sambil diteriaki. Setiba di Katanglumbang, ia terhalang oleh sungai sehingga terkejar musuh. Pertempuran berkobar lagi. Tohjaya terkepung dan akhirnya gugur dalam pertempuran itu.

Pararaton menyebutkan Tohjaya memerintah selama setahun, yaitu dari tahun 1249-1250 M. Dalam Nagarakretagama tidak menyinggung sama sekali tentang pemerintahan Tohjaya. Setelah mengabarkan mangkatnya Anusapati, Nagarakertagama melanjutkan kisahnya dengan Wisnuwarddhana. Selanjutnya Rangga Wuni dinobatkan menjadi raja dengan gelar abhiseka Wisnuwarddhana, sedangkan Mahisa Campaka diangkat menjadi Ratu Angabhaya dengan gelar Narasingha atau Narasinghamurti. Dilukiskan oleh penulis Pararaton, bahwa persekutuan antara Rangga Wuni dan Mahisa Campaka sebagai dua ular dalam satu liang. Sedangkan Nagarakretagama mengiaskan pemerintahan bersama Wisnuwarrdhana dan Narasingamurrti sebagai kerjasama antara Madhawa (Wisnu) dan Indra. Dengan demikian, sengketa antara keturunan Tunggul Ametung dan Ken Angrok telah selesai sejak terbentuknya pemerintahan Wisnuwarddhana dan Narasingha. Panji Patipati yang menyelamatkan hidup mereka dari ancaman Panji Tohjaya, diangkat sebagai dharmadikarana (hakim tinggi) seperti yang tercantum dalam Prasasti Gunung Wilis pada tahun Saka 1191 (1269 M). Begitu juga di dalam Prasasti Pananggungan (1296 M), Panji Patipati yang bergelar Pu Kapat, diangkat sebagai dharmmadyaksa kasaiwan pada zaman pemerintahan Kertanagara.

Namun berita Pararaton mengenai pergeseran kekuasaan dari tangan Anusapati ke tangan Tohjaya ini berlainan sekali dengan keterangan yang terdapat di dalam Prasasti Mula-Malurung (1255 M). Prasasti Mula Malurung sama sekali tidak menyinggung nama Anusapati, apalagi tentang bagaimana mangkatnya. Boleh dipastikan bahwa Anusapati mangkat dalam keadaan biasa, tidak dibunuh oleh Tohjaya dengan keris Gandring pada tahun 1248. Dalam prasasti tersebut dibuktikan bahwa Nararya Tohjaya adalah raja Kadiri, pengganti Nararya Guning Bhaya. Jadi, Tohjaya tidak menggantikan Anusapati sebagai raja Tumapel seperti diuraikan dalam Pararaton. Jika uraian Pararaton itu mengandung unsur-unsur kebenaran, maka pembunuhan itu dilakukan oleh Nararya Tohjaya terhadap raja Guning Bhaya, tidak terhadap Anusapati. Pembunuhan itu tidak dimaksudkan untuk membalas kematian raja Rajasa, karena Guning Bhaya tidak pernah membunuh raja Rajasa. Tohjaya beranggapan bahwa ia memiliki hak yang sama seperti saudara-saudaranya. Hanya saja, menurut Pararaton, ia dilahirkan dari istri ampil (selir) Ken Umang.

Yang mempunyai hak waris atas kerajaan Kediri ialah Mahisa Campaka, putra Mahisa Wonga Teleng alias Bhatara Parameswara. Ketika ayahnya mangkat, mungkin ia belum dewasa sehingga perlu diwakili oleh pamannya, Guning Bhaya. Sepeninggal Guning Bhaya, bukan Mahisa Campaka yang naik tahta, melainkan Nararya Tohjaya. Lagi pula, melalui perkawinannya dengan putri Waning Hyun, putri Bhatara Parameswara, Nararya Seminingrat juga sekadar mempunyai hak waris atas Kerajaan Kediri. Dengan sendirinya, Nararya Tohjaya curiga terhadap Mahisa Campaka dan Seminingrat. Curiga bahwa mereka berdua akan mengadakan komplotan untuk menggulingkannya. Oleh karena itu, ia memahami pendapat Pranaraja bahwa mereka berdua dapat diibaratkan dengan bisul di dekat pusar, yang sangat membahayakan jika pecah pada suatu saat.

Sumber:
Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno
Tafsir Sejarah Nagarakretagama – Prof. Dr. Slametmuljana
Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit) – Prof. Dr. Slametmuljana
Pararaton – Drs. R. Pitono Hardjowardojo
Sedjarah Indonesia IC – Dra. Satyawati Suleiman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s