Kerajaan Purwwa

purwwaYang dimaksud Purwwa di sini adalah situs yang berkaitan dengan kekuasaan pra-Tumapĕl, di mana letak situs itu diperkirakan membentang dari daerah di sekitar Polowijen, Tasikmadu, Balearjosari, Bejisari, Bioro, Panggung, dan Bukur. Meski Pararaton dalam rangka memuliakan Raja Ranggah Rājasa Sang Amurwabhūmi memaparkan bahwa pendiri Tumapĕl adalah Ken Arok atau Ranggah Rājasa Sang Amurwabhūmi dan sekedar menuturkan bahwa Ken Dĕdĕs hanyalah putri seorang pendeta bernama Pu Purwa dari Panawijen, namun beberapa hal tidak bisa diingkari bahwa sebelum kekuasaan Tumapĕl ditegakkan oleh Ken Arok pada dasarnya di Malang sudah ada kekuasaan yang sangat kuat.

Berdasar uraian Prasasti Kemulan yang berasal dari tahun 1116 Şaka (31 Agustus 1194 M), yang ditemukan di Desa Kemulan, Trenggalek, disebut nama Şrī Mahārāja Şrī Sarwweşwara Triwikramāwatārānindita Şŗnggalañcana Digwijayottunggadewanāma, yang tiada lain adalah Maharaja Kertajaya dari Kadiri. Diuraikan bahwa sāmya haji Kataņdan Sakapāt (raja bawahan) dengan perantara pengalasan bernama Gĕng Adĕg menghadap raja dengan membawa prasasti rontal yang telah diterima dari Aji Tumandaḥ yang dicandikan di Jawa dan anugerah Şrī Rajakula, dengan harapan disalin ke atas prasasti batu dengan cap Keŗtajaya (mapratista ring linggopala tandan krtajaya).

Permohonan sāmya haji Kataņdan Sakapāt dikabulkan oleh Kertajaya dengan tambahan beberapa pembebasan pembayaran pajak. Anugerah yang diterima sāmya haji Kataņdan Sakapāt itu berdasar kesetiaan mereka terhadap raja hingga berhasil kembali menduduki tahta di kerajaan Kadiri (Bhumi Kadiri). Sebelum itu, raja telah diserang oleh bala tentara musuh dari timur atau Purwwa (tka ni satru wadwa sangke purwwa), sehingga dengan terpaksa raja meninggalkan istananya di Katang-katang (tatkala ni n kentar sangke kadatwan ring katang-katang deni nkin malr yatik kaprabhun sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri).

Tidak bisa ditafsirkan lain bahwa bala tentara dari timur atau purwwa yang menyerang Maharaja Kertajaya yang bertahta di Katang-katang di Bhumi Kadiri adalah penguasa dari daerah Malang, yang letak geografisnya di timur Kadiri. Sedangkan menurut Prasasti Sukun bertahun 1083 Saka (1161 M) yang tersimpan di Museum Pu Tantular Surabaya disebutkan bahwa Sri Maharaja Jayamerta mengukuhkan desa Sukun menjadi daerah sima yang bebas pajak. Fakta ini menunjukkan bahwa di Malang pada pertengahan abad ke-12 terdapat kerajaan besar yang dipimpin oleh raja yang bernama Jayamerta.

Mengaitkan data pada Prasasti Kemulan dan Prasasti Sukun, tidak bisa diingkari bahwa di daerah Malang dewasa itu terdapat sebuah kerajaan besar di mana rajanya menggunakan gelar Sri Maharaja yakni raja yang berkuasa atas sejumlah kerajaan-kerajaan yang lebih kecil wilayah teritorialnya. Itu sebabnya penamaan Pu Purwa bagi orang tua Ken Dĕdĕs sebagaimana disebut Pararaton dapat ditafsirkan sebagai pengungkapan kembali akan hal tersebut oleh penyusun Pararaton yang samar-samar masih ingat akan adanya kekuasaan pra-Tumapĕl tetapi tak mampu lagi merekonstruksinya secara benar karena kurangnya data, hingga kawasan itu digambarkan sekedar pertapaan yang dipimpin oleh Pu Purwa.

Adanya kekuasaan Purwwa pra-Tumapĕl di Malang yang sempat menyerang Maharaja Keŗtajaya hingga penguasa Kerajaan Kadiri itu mengungsi tampaknya tidak bisa diingkari. Hal itu setidaknya didukung oleh Pararaton yang menyebut Ken Dĕdĕs sebagai perempuan Nareswari (Sanskerta: permaisuri; Jawa Kuno: raja putri). Pararaton juga menyebut bahwa Ken Dĕdĕs yang putri Pu Purwa dari Panawijen dilarikan dan kemudian dikawin oleh Tunggul Amĕtung yakni akuwu Tumapĕl, bawahan Maharaja Keŗtajaya.

Prasasti Kemulan secara jelas menguraikan bahwa setelah mengungsi dari kedaton Katang-katang akibat serangan balatentara dari Purwwa, Maharaja Keŗtajaya berhasil kembali ke tahtanya di Bhumi Kadiri. Ini berarti, dengan bantuan sāmya haji Kataņdan Sakapāt penguasa Bhumi Kadiri itu berhasil mengalahkan balatentara musuh dari Purwwa. Munculnya nama Tunggul Amĕtung sebagai akuwu Tumapĕl yang melarikan putri Pu Purwa sebagaimana digambarkan Pararaton memunculkan penafsiran bahwa setelah Maharaja Keŗtajaya berhasil menghalau kekuatan musuh dari Bhumi Kadiri, maka balatentara Kadiri kemudian menggempur pusat kekuasaan Purwwa. Tunggul Amĕtung sangat mungkin adalah keluarga Maharaja Kertajaya yang mewakili upaya penaklukan pusat kekuasaan Purwwa. Dengan demikian, menjadi wajar ketika Tunggul Amĕtung memenangkan peperangan kemudian menjadikan Ken Dĕdĕs sebagai istri pampasan dan memberinya kedudukan sebagai nareswari yakni permaisuri.

Sekalipun adanya kekuasaan pra-Tumapĕl di Malang tidak terbantah, namun letak yang tepat dari bekas kekuasaan itu perlu diteliti lebih mendalam. Sebagai contoh, salah satu bukti fisik dari adanya situs Purwwa yang menunjuk pada terdapatnya sisa-sisa peninggalan masa silam pra-Tumapĕl dapat ditemukan di belakang kompleks SDN Polowijen II dan sekitarnya dalam bentuk bekas-bekas pondasi dari batu merah yang besar dan tebal yang berserakan di ladang penduduk setempat.

Di kampung Polowijen ditemukan lorong bawah tanah dengan kedalaman 6-7 meter yang belum diketahui berapa panjangnya dan ke mana arahnya, di mana pada masa silam lorong macam itu disebut “sumur upas” yang digunakan oleh raja dan keluarganya untuk melarikan diri dari serangan musuh. Bertolak dari pandangan aetiologi (ilmu tentang asal-usul nama sesuatu), lorong bawah tanah itu diperkirakan mengarah ke wilayah Balearjosari (Bale Raja Sari), yakni tempat tinggal utama raja. Di Polowijen juga terdapat semacam telaga kering yang oleh penduduk setempat diyakini sebagai tempat moksa Ken Dĕdĕs.

Pada akhir abad ke-12 daerah Malang secara utuh di bawah kekuasaan Kadiri. Ini terlihat pada Prasasti Pamotoh yang dikeluarkan pada 1120 Saka (1198 M) yang diketemukan di kompleks perkebunan Ukir Negara, Wlingi, Blitar menyebutkan bahwa Sri Maharaja menganugerahi tanah kepada dyah Limpa, Rakryan Patang Juru yang bertempat tinggal di Gasek di wilayah Pamotoh. Penyerahan itu diwakili oleh Rakryan Pamotoh dan Rakryan Kanuruhan. Tanah-tanah yang dihadiahkan itu adalah Malang, Paniwen dan Talun (semuanya dewasa ini terletak di daerah Malang).

Tampaknya setelah ditaklukkan oleh Kadiri, raja dari Purwwa mengundurkan diri dan bersembunyi di daerah Panawijen (mungkin menjadi seorang pendeta). Pararaton setidaknya mengungkapkan bagaimana Pu Purwa mengharap banyak kepada Ken Arok untuk merebut kembali putrinya dari Tunggul Amĕtung. Harapan Pu Purwa jelas mengandung makna bahwa Ken Arok harus dapat merebut kembali kekuasaan dari akuwu Tunggul Amĕtung, dan tentu pada akhirnya merebut kekuasaan dari Maharaja Keŗtajaya. [ant]

Sumber:
Petunjuk Wisata Sejarah Kabupaten Malang
Monografi Sejarah Kota Malang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s