Kerajaan Sengguruh

sengguruhSitus Sengguruh terletak di Dukuh Sumedang, desa Jenggala (sebelah barat Desa Sengguruh), Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Menurut Serat Kandha dan Babad Sangkala setelah runtuhnya Majapahit sisa-sisa kekuatannya di Jawa Timur bagian selatan terkonsentrasi di Sengguruh. Sejumlah nama toponimis di selatan kota Kepanjen seperti Sengguruh, Ngibik, Jenggala, Sumedang, dan Balerejo tampaknya memiliki kaitan historis dengan keberadaan Kadipaten Sengguruh di masa lampau.

De Graaf menyebutkan bahwa sesudah kota Majapahit direbut oleh orang-orang Islam, kiranya anak laki-laki patih Majapahit, Raden Pramana, masih dapat bertahan untuk beberapa waktu di daerah pegunungan yang terpencil itu. Akhirnya Raden Pramana terpaksa menyingkir juga, karena datangnya serangan oleh laskar Sultan Demak.

Menurut Babat ing Gresik dan naskah Trah Brawijaya V Tedhak Pusponegaran, setelah runtuhnya Majapahit kekuasaan Hindu terakhir berada di Sengguruh di bawah kepemimpinan Adipati Sengguruh yang memiliki nama Aria Terung. Adipati Sengguruh ini adalah putra Raden Kusen, Adipati Terung, adik seibu Raden Patah. Jadi, Adipati Sengguruh kemenakan Sultan Demak. Meski Raden Kusen, ayahandanya beragama Islam, Aria Terung dewasa itu masih beragama Hindu.

Sebagai kekuatan terakhir Hindu di pedalaman, Adipati Sengguruh dikisahkan pernah melakukan serangan ke daerah pesisir yakni Giri pada tahun 1535 M. Babad ing Gresik memberi identitas pasukan Sengguruh sebagai pasukan Terung (ini adalah ketumpangtindihan antara nama Arya Terung dengan jabatan Adipati Sengguruh). Pasukan Sengguruh ini mula-mula menyerbu daerah Lamongan. Pasukan Giri dibantu 40 orang laskar Cina Muslim dipimpin Panji Laras dan Panji Liris menghadang pasukan Sengguruh.

Penguasa Giri (Sunan Dalem) dalam mimpi bertemu ayahandanya yakni Prabhu Satmata atau Sunan Giri I. Menurut mimpinya, pasukan pimpinan Adipati Sengguruh tidak perlu dilawan dan Giri harus ditinggalkan. Sunan Dalem kemudian memerintahkan kepala pasukannya yang bernama Jagapati untuk menghentikan pertempuran. Sunan Dalem kemudian pergi dari Giri, mengungsi ke Gumena.

Pasukan Sengguruh menyerbu terus ke Giri hingga masuk ke kompleks makam Prabhu Satmata. Pasukan Sengguruh akan merusak makam Prabhu Satmata yang saat itu ditelungkupi oleh juru kunci bernama Seh Grigis. Adipati Sengguruh kemudian menebas punggung Seh Grigis hingga juru kunci itu mati. Tetapi tiba-tiba, sekawanan lebah keluar dari makam dan menyengati pasukan Sengguruh itu hingga lari tunggang langgang. Adipati Sengguruh dikisahkan disengati oleh raja lebah (tawon endhas) selama tiga hari hingga ia meratap bertobat kepada Allah. Bahkan Adipati Sengguruh berujar bahwa Kanjeng Prabhu Satmata adalah wali yang agung. Dan menurut Babat ing Gresik, sejak peristiwa itu Adipati Sengguruh sangat hormat kepada Prabhu Satmata. Tiap tahun sekali Adipati Sengguruh yang sudah memeluk agama Islam itu bersama bala tentaranya berziarah ke Giri untuk berbakti kepada Prabhu Satmata.

Menurut Tedhak Dermayudan, setelah peristiwa kekalahan Adipati Sengguruh, daerah Jaha, Wendit, Kipanjen, Dinaya dan Palawijen masuk Islam karena para penguasanya ditaklukkan oleh putra Sunan Giri yang bernama Pangeran Kedhanyang. Pangeran Kedhanyang ini dikisahkan bermukim di Gribik. Menurut de Graaf, penguasa di Gribik (atau Ngibik) di daerah Sengguruh telah beralih ke agama Islam berkat jasa seorang Syekh di Manganti, paman Sunan Giri.

Setelah kegagalan penyerbuan ke Giri dan malah memeluk agama Islam, Arya Terung yang menjadi penyebar dakwah Islam di pedalaman mengalami pembrontakan oleh rakyatnya yang dipimpin oleh lawan lamanya yaitu Raden Pramana, putra patih Majapahit, Udara. Saudara Raden Pramana yang menjadi adipati di Pasuruan yakni Menak Supethak yang dikalahkan oleh laskar Demak, bersama sisa-sisa pasukannya ikut bergabung mengobarkan pembrontakan di Sengguruh. Kekuatan pemberontak untuk merebut Sengguruh itu masih ditambah lagi dengan dukungan Adipati Dengkol, anak Menak Supethak, Adipati Panjer (Nila Suwarna) dan Adipati Srengat. Pertempuran pecah di Sengguruh.

Dalam pertempuran yang sengit, Adipati Sengguruh beserta sisa-sisa prajuritnya yang setia terdesak mundur meninggalkan kedaton. Ia kemudian membangun pertahanan di hilir sungai Brantas. Pasukan Demak saat itu mulai lagi melakukan ekspansi ke Jawa Timur. Pada tahun 1542 daerah Blitar, Lamongan dan Wirasaba dapat diduduki. Lalu tahun 1543 Pawitra (Gunung Penanggungan) dikuasai, disusul kemudian Mamenang (Kediri) pada 1544. Pada tahun 1545 M, Singasari pun dapat dikuasai Demak. Dengan bantuan pasukan Demak , pada 1547 M pasukan Sengguruh berhasil merebut ibukota Sengguruh, Raden Pramana beserta para sentananya bertahan mati-matian, tetapi akhirnya kalah. Raden Pramana lari ke timur. Pasukan Demak kemudian mengangkat kembali Arya Terung sebagai adipati Sengguruh, tetapi sejak saat itu Sengguruh berada di bawah kekuasaan Demak.

Arya Terung menduduki jabatan Adipati Sengguruh sangat lama hingga masa wafatnya ketika melakukan perjalanan pulang dari ziarah ke Giri. Sisa-sisa kekuatan Panjer dan Srengat menghadang rombongan peziarah itu dan menyerangnya secara mendadak. Adipati Sengguruh beserta istri terbunuh. Sejumlah prajurit Sengguruh juga ikut terbunuh. Bahkan perlawanan Arya Balitar, adik kandung Adipati Sengguruh tak berarti apa-apa. Arya Balitar terbunuh tak jauh dari jenazah kakaknya. Jenazah Adipati Sengguruh, istrinya, Arya Balitar, dan para prajurit Sengguruh kemudian dimakamkan di tepi sungai Brantas, tepatnya di Desa Rejotangan, kadipaten Rawa (sekarang masuk kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung). [ant]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s