Kisah-Kisah di Candi Jago: Kunjarakarna

jajaghuCandi Jago (Jajaghu) terletak di Desa Tumpang, sekitar 18 km di sebelah tenggara Kota Malang, penduduk setempat juga menyebutnya dengan nama Candi Tumpang. Candi Jago merupakan pendarmaan raja Wisnuwarddhana yang dibangun pada tahun 1268 M atau kemungkinan 12 tahun sesudahnya (upacara sraddha). Pada teras candi terdapat relief-relief yang ceritanya menunjukkan dua agama yang dianut Wisnuwarddhana yaitu Siwa dan Buddha. Cerita itu antara lain tentang kisah Kunjarakarna yang bersifat Budhistis. Relief Kunjarakarna ini dipahatkan pada teras pertama lanjutan cerita Tantri mulai dari timur laut dan selanjutnya sebagian dipahatkan pada teras kedua mulai dari sudut barat laut.

Relief-relief Kunjarakarna di Candi Jago ini menceritakan tentang usaha seorang makhluk setengah dewa (Kunjarakarna) dalam mencapai jalan kebenaran. Diceritakan Boddhicitta Wairocana di wihara sedang mengajarkan dharma kepada para Jina, Boddhisattwa, Bajrapani, dan dewa-dewa. Pada saat yang sama yaksa yang bernama Kunjarakarna melakukan meditasi Buddha di Gunung Sumeru agar dapat dibebaskan dari wataknya sebagai setan pada inkarnasi berikutnya. Konon kabarnya ia bertekad untuk mengunjungi dewa Gotama (Buddha) dan berangkat.

Setelah itu Kunjarakarna diizinkan menghadap Wairocana dan memohon agar diberi pelajaran mengenai dharma dan diberi penerangan mengenai nasib yang dialami para makhluk di dunia ini. Wairocana memuji keprihatinan Kunjarakarna. Namun, Kunjarakarna diperintahkan dahulu mengunjungi dunia orang mati yaitu wilayah yang dikuasai Dewa Yama. Kunjarakarna berangkat mengunjungi daerah itu. Di suatu persimpangan jalan, Kunjarakarna bertemu dengan dua raksasa yaitu Kalagupta dan Niskala, yang menunjukkan kepada para arwah yang lewat untuk menuju surga atau neraka sesuai dengan amal perbuatan mereka di masa lampau. Jalan ke selatan menuju “Daerah Besi” (Lohabhumipattana) di mana pohon-pohon berupa pedang, gunung dari besi yang menganga dan menutup, burung-burung berekor pisau dan belati, rerumputan dari paku sebagai dedaunan. Kunjarakarna menyaksikan bagaimana orang mati disiksa para kingkara yaitu pembantu Yama dalam bentuk yang mengerikan. Kunjarakarna sangat terharu karena apa yang dilihatnya dan ia berterima kasih kepada Yama yang telah memberinya kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri nasib yang menantikan seorang pendosa.

Kunjarakarna mengunjungi kediaman Dewa Yama dan oleh dewa disambut dengan ramah. Yama kemudian menguraikan kepadanya tentang hakikat kejahatan yang berakibat pada jatuhnya siksaan di neraka. Jalan ke neraka sangat lebar dan mudah ditempuh. Sedangkan jalan ke surga jarang ditempuh orang, tertutup semak belukar dan penuh rintangan. Yama menjelaskan kepada Kunjarakarna mengapa orang yang sudah mati di dunia masih harus disiksa di neraka.

Kunjarakarna melihat bagaimana sebuah periuk besar akan digosok dan dibersihkan untuk menyambut kedatangan seorang pendosa besar seperti yang diterangkan Yama. Dalam waktu tujuh hari lagi Yama akan memulai siksaan yang akan berlangsung selama 100.000 tahun. Adapun pendosa besar itu adalah Purnawijaya, raja para gandharwa, yang saat itu masih menikmati hasil pahalanya di surga. Penjelasan Yama mengguncangkan Kunjarakarna, karena Purnawijaya masih bersaudara dengannya. Justru karena ia ingin turut menikmati kebahagiaan Purnawijaya di surga Indra, ia mau melakukan tobat. Kini ia makin terdorong untuk kembali ke Wairocana dan menerima pelajaran yang dimintanya. Tetapi sebelum ia meninggalkan neraka ia harus mendengarkan dulu uraian Yama mengenai berbagai macam inkarnasi yang menantikan para pendosa setelah mereka melunasi siksaannya di neraka.

Kunjarakarna kemudian mendatangi Purnawijaya yang sedang menikmati kenikmatan surga. Ia menceritakan segala sesuatu yang berkaitan dengan nasib yang akan dijalani Purnawijaya. Raja para gandharwa itu tersentak kaget dan kehilangan harapan akibat berita mengenai kematiannya yang tak terduga-duga serta hal-hal yang mengerikan yang akan terjadi sesudah itu. Namun Kunjarakarna menasehati agar Purnawijaya bertabah hati dan seharusnya menghadap ke Wairocana untuk memohon bantuan sehingga ia dapat mengelakkan nasibnya. Purnawijaya kemudian ikut Kunjarakarna setelah terlebih dahulu berpamitan kepada istrinya, Kusumagandhawati. Dengan diiringi makhluk-makhluk surgawi, Purnawijaya bersama Kunjarakarna menuju Boddhicittanirmala, kediaman Wairocana. Setelah menghormati Wairocana sebagai mahadewa, mereka memohon anugerah dan pelajaran dharma.

Wairocana menerangkan kepada mereka berdua tentang pelajaran menuju kebebasan, di mana salah satu cara mencapai kebebasan itu dengan melalui jnana wisesa (pengetahuan mulia) yang menyebabkan seorang manusia sadar bahwa ia merupakan inkarnasi dewa bahkan ia sendiri adalah dewa itu. Wairocana menguraikan tentang kesamaan lima Jina (Wairocana, Aksobhya, Ratnasambhawa, Amitabha, dan Amogasiddhi) dengan kelima rsi Kusika (Patanjala, Mahakusika, Garga, Metri, dan Kurusya) dan kelima dewa Siwa-isme (Siwa, Iswara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu). Di situ Wairocana menyatakan bahwa ia adalah manifestasi Siwa dan Buddha dalm bentuk yang dapat dilihat, sebagai guru alam semesta, Bhattara Guru, dan dewa tertinggi.

Setelah selesai mendapat pelajaran dharmadesana dari Wairocana, Kunjarakarna mohon diri untuk melanjutkan tapa brata lebih khusuk lagi, tetapi Purnawijaya tidak turut. Purnawijaya masih menanyakan bagaimana ia bisa lolos dari siksa neraka. Wairocana memberitahu bahwa Purnawijaya tidak bisa bebas dari kematian. Ia akan mati dalam tidur dan penderitaannya akan berlangsung selama sembilan hari.

Purnawijaya kembali ke istrinya dan berpesan agar sang istri menantikan kedatangannya pada hari kesepuluh saat ia tidur dan meninggal dunia. Penuh kebimbangan sang istri ditinggalkan bersama dengan jenazah suaminya dan mengungkapkan rasa sedihnya dalam suatu ratapan. Arwah Purnawijaya diangkat oleh para kingkara dan dimasukkan ke dalam periuk. Namun karena ia melakukan samadhi ia hampir tidak merasa sakit. Pada hari ketiga periuk pecah dan menjadi manikam dalam bentuk bunga teratai. Pohon-pohon pedang menjadi parijata-parijata. Para kingkara melaporkan kejadian itu kepada Yama.

Yama datang dan menyaksikan apa yang terjadi pada diri Purnawijaya. Raja para gandharwa itu menjelaskan bahwa itu semua karena rahmat Wairocana dan kesaktian ilmu yang diajarkan kepadanya. Jiwa Purnawijaya kembali ke tubuhnya dan ia seolah-olah bangun tidur. Tetapi kegembiraan istri Purnawijaya, Kusumagandhawati, berubah jadi kekecewaan ketika Purnawijaya menjelaskan bahwa ia akan mengikuti Kunjarakarna untuk melakukan tapa brata. Istrinya terisak menangisi nasibnya dan hanya sedikit terhibur ketika Purnawijaya berusaha untuk memperlihatkan kasih sayangnya.

Keesokan harinya, Kunjarakarna berangkat ditemani gandharwa dan widyadhari dan menghormati Wairocana dengan sembah sujud. Di Boddhicitta para dewa berkumpul menghadiri upacara dewapuja. Yama memohon kepada Wairocana untuk menerangkan, bagaimana mungkin siksaan bagi pendosa besar hanya dilunasi dalam sembilan hari. Wairocana menuturkan kisah Muladhara yang menghabiskan segala kekayaannya untuk diberikan sebagai derma, tetapi dengan hati diliputi kejahatan dan kesombongan. Di satu pihak, terdapat pasangan suami dan istri, Utsahadharma dan Sudharmika, yang menggunakan harta mereka yang sedikit untuk berbuat kebajikan dengan hati murni dan ikhlas. Suami dan istri itu diusir oleh Muladhara dari rumahnya, kemudian mereka menjadi pertapa.

Ketika meninggal, suami dan istri itu menjadi Indra dan Saci yang hidup bahagia di surga. Sedangkan Muladhara ketika mati diangkat menjadi Purnawijaya, raja para gandharwa. Meski kejahatannya pantas diganjar dengan siksa yang lama di neraka, namun siksaan itu diperpendek menjadi beberapa hari saja karena kesaktian yang terpancar dari ajaran suci. Purnawijaya telah diberi pengetahuan mengenai ajaran itu bersama dengan bekas ahli bangunannya, Karnagotra, yang dilahirkan kembali sebagai Kunjarakarna.

Wairocana kemudian menerangkan kepada Purnawijaya, bagaimana perbuatan lahiriah yang baik hanya dapat menghasilkan ganjaran di surga, bukannya pembebasan sempurna. Ini hanya dapat dicapai dengan punya yang lebih luhur sifatnya, yaitu mencapai pencerahan sempurna. Purnawijaya kemudian bersama istrinya akan mempraktekkan ajaran itu ke Sumeru. Ia memberitahukan kepada para bawahannya di surga, bahwa ia mengundurkan diri lalu memerintahkan kepada mereka agar kembali ke surga. Mereka patuh, walaupun dengan sedih hati, karena kehilangan seorang raja yang tak ada taranya. Dengan melakukan tapa sebagai mahayana, Purnawijaya dan Kusumagandhawati berhasil mencapai pembebasan di surga Jina. Sedangkan Kunjarakarna telah mendahului mereka di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s