Mertojoyo Merjosari Dinoyo

Situs Mertojoyo secara arkeologis sudah tidak utuh lagi, namun di kawasan itu masih terdapat bekas-bekas pondasi bangunan dari batu bata yang besar dan tebal yang tersebar di persawahan. Yang masih tersisa dari arca-arca yang ada hanyalah arca seekor singa yang terbenam di dalam tanah. Toponim Mertojoyo (Amrthajaya) dan arca singa jelas menunjuk pada pengaruh Waisnawa di mana Wisnu dalam salah satu reinkarnasi berwujud Narasimha. Di sebelah selatan situs arca singa dahulu terdapat sebuah situs yang oleh penduduk dinamakan Punden Candri. Dinamakan demikian karena punden itu terletak di Dukuh Candri, Kelurahan Merjosari. Benda-benda yang berada di situs itu berupa batu bulat sebanyak 10 buah. Batu-batu itu saat ini berada di halaman kampus Universitas Gajayana. Benda lain yang berasal dari situs Merjosari adalah yoni.

Sementara pada situs Dinoyo ditemukan sejumlah yoni yang lazim disebut penduduk dengan nama “watu lumpang”. Dewasa ini, yoni-yoni tersebut ditempatkan di SDN Dinoyo VI dan di kompleks Unisma Malang. Sebuah lingga yang cukup besar tertanam di dalam tanah tepatnya di pinggir jalan M.T. Haryono, di sebelah tenggara terminal Dinoyo lama. Tumpang tindihnya benda-benda arkeologi bercorak Siwa dan Waisnawa pada situsKanjuruhan pada dasarnya memiliki kaitan simbolik dengan tumbuh dan berkembangnya kekuasaan Gajayana dan keturunannya, di mana menurut W.J. van der Meulen toponim Mertojoyo-Merjosari memiliki kaitan dengan mitos Amrthajayasri (amrta: kemenangan, kemakmuran). Bahkan W.J. van der Meulen berpendapat bahwa nama betul dari puri Gajayana (bernama Dyanayana dan Vasuki) adalah Amrthajayasri.

Amrthajayasri sendiri berkaitan dengan kisah mengenai pengadukan samudera purba dan perebutan amrtha antara para dewa dengan para raksasa di mana amrtha telah dicuri oleh para raksasa. Para dewa kemudian mengadakan pertemuan yang dihadiri Brahma dan Wisnu untuk membicarakan cara merebut kembali air itu. Siwa yang mendengar hal itu kemudian ikut hadir dalam pertemuan itu. Siwa memberikan persetujuan agar putranya, Kumara, bertindak sebagai panglima tertinggi dalam perang melawan para raksasa.

Setelah pertemuan usai dan Siwa meninggalkan tempat, Wisnu berubah wujud menjadi seorang wanita dari surge yang cantik sekali dan menuju ke kediaman raja para raksasa bernama Ratmaja. Kehadiran Wisnu segera menggemparkan karena kecantikannya yang luar biasa di mana Ratmaja jatuh cinta. Dalam suatu pertemuan yang sarat dengan suasana asmara, wanita cantik itu memohon ijin agar diperbolehkan menyentuh kendi yang berisi air amrtha. Pada saat menyentuh kendi, Wisnu berubah ke wujud asli dan membawa kendi berisi amrtha itu menghilang. Terjadi perang antara dewa-dewa dengan raksasa-raksasa. Raja para raksasa, Ratmaja, tewas oleh Cakra Wisnu.

Dengan membawa kemenangan para dewa kembali ke surge dan di sana akan dilakukan upacara meminum amrtha. Raksasa Rahu, anak laki-laki Wipracinti, yang tidak ikut dalam pertempuran ketika ayahnya ditewaskan Indra, ingin membalas dendam dengan mengenakan wujud sebagai dewa untuk ikut serta meminum amrtha. Namun gerak-gerik Rahu selalu diperhatikan matahari dan rembulan dan keduanya memberitahukan hal itu kepada Wisnu. Pada saat Rahu meminta amrtha dan sebelum air itu mengalir ke tenggorokannya, Wisnu memenggal kepalanya dengan senjata cakra. Karena khasiat amrtha, maka kepala Rahu yang terpotong itu tidak bisa mati. Akibat peristiwa itu, Rahu menjadi dendam kepada matahari dan rembulan tetapi selalu keduanya terlepas kembali karena Rahu tak memilki tubuh. Peristiwa Rahu menelan matahari dan rembulan itu disebut sebagai gerhana. Sekalipun Wisnu menjadi pemenang dalam operasi amrthajayasri, namun usahanya itu terancam oleh Kalakutha (Racun Agung) yang jika jatuh setetes saja dapat membinasakan dunia. Para dewa tidak ada yang berani menghadapi Kalakutha. Akhirnya Siwa muncul sebagai penolong di mana dengan keberanian luar biasa ia menelan Kalakutha. Akibatnya, kerongkongan Siwa menjadi biru. Itu sebabnya, Siwa disebut dengan nama Nilakantha (Kerongkongan Biru).

Menurut W.J. van der Meulen, kemenangan Wisnu selaku penyusun operasi amrthajayasri yang terancam gagal oleh Kalakutha, ditolong oleh keberanian Siwa yang menelan Kalakutha dan dengan demikian menjadi Tuan (Penguasa) Kebusukan, Putikeswara. Tanpa pembersihan (pavita) oleh Siwa ini, tidak mungkin ada “amrthajayasri”, operasi “amrtha kemenangan-kemakmuran”.

Bertolak dari pemahaman atas kisah operasi “amrthajayasri”, ketumpangtindihan peninggalan arkeologis bersifat Siwa dan Waisnawa di situs Kanjuruhan dapat dijelaskan dengan baik. Toponim Mertojoyo misalnya, tentu berkaitan dengan amrthajaya di mana toponim Merjosari juga dapat dikaitkan dengan Amrthajayasri yakni Mer(to)jo(yo)sari. Sedang Dukuh Candri di Kelurahan Merjosari menunjuk pada Candri(ka) yaitu rembulan yang melaporkan perihal Rahu kepada Wisnu.

Nama Sungai Metro yang mengalir di daerah Mertojoyo-Merjosari, pada dasarnya berkaitan dengan Amrtha. Bahkan nama Sungai Konto pun tidak terlepas dari kisah Siwa sebagai Sang Nilakantha (kerongkongan biru) di mana sungai yang dikenal angker oleh penduduk di sekitarnya itu dimaksudkan sebagai sungai milik Siwa, yang muaranya ke Sungai Brantas berada di Gudo (Jawa Kuno berarti: berani, Sang Pemberani, Siwa), Kabupaten Jombang.

Nama Tlogomas setidaknya memiliki kaitan toponimis dengan mitos pengadukan samudera purba. Toponim desa Karuman pun jika dikaitkan dengan kisah perebutan amrtha memiliki kaitan dengan tokoh Wisnu yang menjelma dalam wujud wanita cantik, di mana kata kaaruman atau karumruman dalam bahasa Jawa Kuno memiliki makna Kecantikan, keindahan, keluwesan, kehalusan, keharuman atau wilayah keindahan. Hal serupa dapat menjelaskan nama toponimis Karang Dinoyo (Dyanayana) dan Karang Besuki (Vasuki) yang menunjuk pada situs bersifat Waisnawa. [ant]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s