Prasasti Kanuruhan

ganeshaPrasasti Kanuruhan ini sangat unik karena dipahatkan di belakang sandaran sebuah arca Ganeśa. Arca Ganeśa digambarkan dalam posisi duduk di atas tempat duduk berupa teratai merah (padmasana). Keadaan arca terputus di bagian atas sebelah kiri yaitu di bagian leher ke atas putus, belalai hilang, dua tangan belakang, dan telapak hilang. Ukuran arca Ganeśa ini panjang 101,5 cm, lebar 74 cm, dan tinggi 109,5 cm. Prasasti ditulis dengan menggunakan huruf Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno. Sebagian isinya diterbitkan oleh Damais dalam E.E.I, IV halaman 106 dan dimasukkan ke dalam daftar prasasti-prasasti yang berasal dari Jawa Timur. Dahulu prasasti ini pernah berada di Taman Senaputra. Tetapi saat ini Prasasti Kanuruhan telah disimpan di Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa di Kota Malang.

Arca Ganeśa jenis ini bukan merupakan arca yang diletakkan dalam mandala percandian, namun penempatannya berhubungan dengan kekuatan magis terhadap tempat yang dijaganya, seperti pertemuan dua sungai, lembah, jurang, atau daerah yang dibebaskan (sīma) bagi penduduk. Figur Ganeśa demikian ini disebut Vigna vigneswara yang artinya Dewa Penghancur Gangguan.

Prasasti Kanuruhan menyebutkan bahwa Rakryān Kanuruhan dyah Mungpah menganugerahkan sebidang sawah di (?) yang masuk wilayah Kanuruhan kepada Sang Bulul. Pemberian tanah itu maksudkan Sang Bulul untuk dibuat taman bunga lengkap dengan petirthaannya sebagai tambahan kepada amalnya (?). Rupanya Sang Bulul telah bernazar demikian, maka ia mohon kepada Rakryān Kanuruhan untuk melaksanakan nazarnya itu. Permohonan Sang Bulul tersebut dikabulkan, bahkan Rakryān Kanuruhan menetapkan daerah sekitarnya diberikan kepada Sang Bulul. Segala hasil bumi dan hasil pajak diberikan kepada Sang Bulul sampai akhir zaman. Peristiwa itulah yang diperingati dalam Prasasti Kanuruhan ini yang berangka tahun 856 Śaka (4-7 Januari 935 M). Beberapa unsur penanggalannya hilang karena keadaan sebagian prasasti hancur. Nama dyah Mungpah setidaknya disebut di dalam prasasti lainnya yaitu Prasasti Limus (915 M), Prasasti Gulung-gulung (929 M), dan Prasasti Linggasuntan (930 M).

Di mana lokasi tepatnya taman bunga itu sekarang, kiranya tidak mudah untuk diketahui. Bekas tempat arca Ganeśa dahulu berada, terdapat situs petirtaan yang menurut penduduk setempat berukuran 12 x 12 meter dengan bermata air dari sekitarnya dan disalurkan melalui dwarajala. Kini situs petirtaan itu sudah lenyap karena diuruk dan di atasnya dibangun beberapa rumah. Letaknya di Dukuh Beji gang buntu Jalan Hamid Rusdi di Kota Malang. Kata Beji dapat dikembalikan kepada kata petirtaan atau telaga. Selain itu, masyarakat sekitar setidaknya masih merekam akan mitos Mbah Beji Sari. Dari nama ini masih diwarisi kata sari yang berarti bunga. Hal ini memberikan petunjuk ke arah identifikasi lokasi taman bunga itu, mengingat mitos Mbah Beji Sari ini kiranya memiliki hubungan erat dengan isi Prasasti Kanuruhan. Sedangkan nama Bulul sekarang menjadi Bunul atau Bunulrejo di Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Sumber:
Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno
Mengenal Koleksi Benda Cagar Budaya di Kota Malang
Monografi Sejarah Daerah Kota Malang
Dyah Mungpang: Penguasa Malang Kuno 915-935 Masehi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s