POLEMIK DYAH LEMBU TAL, MENCARI MAKNA SEBUAH NAMA (bag 1 & 2)

POLEMIK DYAH LEMBU TAL, MENCARI MAKNA SEBUAH NAMA (bag 1 & 2)

Oleh Pandu Radea

Komunitas Tapak Karuhun Galuh

Polemik seputar identitas Raden Wijaya sepertinnya terus berkelindan.  Tokoh sentral pendiri  Majapahit ini menjadi kelabu riwayatnya tatkala dihadapkan pada  persoalan kekerabatannya dengan Kerajaan Sunda.  Saat ini, masyarakat Sunda yang memahami sejarah dari literature yang ada, mengakui Raden Wijaya adalah salah satu leluhurnya  yang mengangkat dinastyRajasa-Singhasari dalam singgasana baru Kerajaan Majapahit yang bersinar di Nusantara. Kisahnya terukir dalam beberapa inskripsi prasasti di Wilayah Jawa, ditulis pula di  berbagai catatan para pujangga dari masa ke masa.  Kesuksesan Raden Wijaya bagi urang Sunda seperti melanjutkan kejayaan  Sanjayayang perkasa, trah Kerajaan Galuh yang terlebih dulu berkiprah mewarnai tanah Jawa dengan panji Mataramnya yang berkibar sampai Philipina.

 Namun catatan riwayat kekeluargaan Raden Wijaya  dengan Kerajaan Sunda, tidak diterima begitu saja oleh sebagian besar kalangan sejarahwan.  Sumber sejarah dari Sunda dianggap meragukan. Tidak cukup bukti jika Raden Wijaya memiliki trah Kerajaan Sunda. Dan persoalan ini akhirnya menjadi polemik .  Sehingga di kalangan pemerhati sejarah khususnya Sunda dan  Jawa,  seolah terjadi  kesenjangan presepsi dalam mengintrepretasikan sumber-sumber sejarahnya. Di jejaring sosial terutama dalam forum-forum sejarah, persoalan ini tetap populer dan memancing debatable di kalangan umum. Pada akhirnya meruncing dan memunculkan kesan ego-superioritas antara suku Sunda dan Jawa dalam memperebutkan riwayat Raden Wijaya.

Persolan tentang perbedaan presepsi sejarah antara sunda dan jawa memang selalu mencuat dan terwarisi sampai saat ini. Tragedi Bubat adalah salah satu polemik yang paling popular diperbincangkan, sebagai peristiwa kontroversial yang diyakini ada, atau sama sekali tidak pernah terjadi. Tidak adanya sumber primer yang menjelaskan peristiwa tersebut membuatnya tetap langgeng diperdebatkan. Sementara itu kalangan ahli sejarah lebih bersikap pasif, keilmuan mereka tidak mengizinkan untuk sembarangan mengeluarkan pendapat tanpa didukung dengan kajian ilmiah yang kuat. 

Tulisan ini mencoba mengulas dan menganalisa kembali substansi masalah yang sering diperdebatkan mengenai sosok Raden Wijaya dan Dyah Lembu Tal. Ditengarai tumbuhnya kesadaran bahwa sejarah bukanlah ilmu pasti, maka menelisik masa lalupun menjadi semakin terbuka untuk di dikaji dan dianalisa, terutama menyangkut sumber-sumber sejarah yang masih terselimuti kabut misteri untuk  dikompromikan kembali dalam argumentasi yang menawarkan banyak kemungkinan.  Yang akan dianalisa di bawah ini tentang persoalan klasik Dyah Lembu Tal sebagai sosok kunci yang menjelaskan riwayat Raden Wijaya  berdasarkan  terjemahan ilmiah Negarakertagama karya Prof Dr. Slamet Muljana khususnyapupuh 46 (bait2)  dan 47 (bait 1).  Tanpa bermaksud meragukan kredibilitas karya dan jasanya yang besar dalam dunia pustaka sejarah Indonesia, tulisan ini hanya mengkritisi terjemahan dua pupuh di atas yang selama ini menjadi polemik.

Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara, Naskah yang Tidak Diakui

Menurut Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara  (disingkat PRRBN,  naskah sejarah sunda yang saat ini dijadikan rujukan bagi umumnya pemerhati sejarah di sunda),  Raden Wijaya Adalah pendiri Kerajaan Majapahit, Ayahnya bernama RahiyangJayadarma (Rahiyang Jayagiri) dari Kerajaan sunda dan Ibunya bernama Dyah Lembu Tal keturunan Ken Arok pendiri Singasari.  Berikutnya PRRBN menyebutkan bahwa Rahiyang Jayadarma adalah putra Prabuguru Darmasiksa, sedangkan ibunya adalah Dewi Suprabha Wijayatunggadewi, putri dariPrabu Sanggramawijayattungawarman yang berkuasa di Sriwijaya tahun 1018-1027 M.  Dengan kata lain, Prabuguru Darmasiksa merupakan menantu penguasa kerajaan Sriwijaya. Dan sekaligus menegaskan bahwa Raden Wijaya, melalui ayahnya (Pangeran Jayadarma) memiliki hubungan darah dengan Sriwijaya dari buyutnya itu.

DyahLembu Tal, adalah putri Mahisa Cempaka  dari Jawa Timur. Dyah Lembu Tal menurut PRIBN merupakan gelar sedangkan nama aslinya adalah Dewi Naramurtti.  MahisaCempaka, merupakan nama yang disebut dalam Kitab Pararaton, PRRBN, dan Babad Tanah Jawi. Sedangkan abhisekanya bernama Batara Narasinghamurti. Sumber primer yang mencatat nama Narasinghamurti adalah Piagam Penampihan (1269 M), Naskah rontal Desawarnnana(NegaraKertagama) yg ditulis tahun 1365 M dan Prasasti MulaManurung yang dikeluarkan atas perintah Wishnuwardhana(1255 M). Sebenarnya Prasasti Mula Manurung  hanya menyebut nama Narajaya, namun menurut Selamet Muljana, Narajaya adalah nama asli Narasinghamurti. 

Dari keterangan diatas, tidak ada persoalan antara PRRBN dan sumber-sumber lain di Jawa mengenai vailiditas Raden Wijaya dan Mahisa Cempaka sebagai tokoh sejarah klasik, namun polemik mencuat tatkala memperdebatkan jenis kelamin Dyah Lembu Tal. Apakah sebagai ayah  ataukah sebagi ibu Raden Wijaya? Hal inilah yang menjadi perdebatan klasik antara PRRBN, Babad Tanah Jawi  yang menulis Dyah Lembu Tal adalah seorang wanita dan ibu Raden Wijaya, bertentangan dengan  Naskah Negarakertagama yang menyebutkan bahwa Dyah Lembu Tal adalah seorang lelaki sekaligus  ayah Raden Wijaya. JIka Dyah Lembu Tal seorang wanita, maka hubungannya dengan sunda menjadi terang. Namun jika ternya seorang lelaki, maka naskah PRRBN bisa dianggap bohong.

Sampai saat ini rujukan sejarah tetap mengacu pada Negarakertagama, karena naskah yang ditulis oleh mpu Prapanca ini merupakan sumber primer yang telah ditetapkan oleh UNESCO tahun 2008 sebagai The Memory of The World Regional for Asia/Pasific. Naskah ini dipandang sebagai memori dunia yang mencatat sejarah hubungan Kerajaan Majapahit dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.  Sedangkan PRRBN merupakan naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta  (Abdulkamil Muhammad Nasaruddin) hasil dari Gotrasawala  tahun 1677 M yang bertujuan menyusun sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara.  

Namun keberadaan naskah PRIBN yang banyak menyingkap tabir sejarah Nusantara itu diragukan karena berdasarkan penelitian bahwa bukti fisik naskah  ini ternyata tidak otentik. Disebabkan baik media tulis, bentuk hurup, tekhnik penulisaan maupun cara penyusunan kronologis sejarahnya dianggap hal yang baru. Sehingga  Prof. Dr. Hj. Nina lubis, M.S menyatakan dalam artikelnya di Pikiran Rakyat bahwa Naskah Wangsakerta bukan bukti yang otentik, artinya tergolong sebagai sumber sekunder, yang tidak ditulis sezaman. Dan sebagai sumber sekunder, hanya diperlukan dalam prosedur koroborasi. Misalnya saja, untuk mencari kepastian tentang nama raja-raja Salakanagara ataupun raja-raja Tarumanagara. Karena yang ditulis oleh PRRBN begitu rinci dan dilengkapi dengan angka tahun pemerintahanyang berguna untuk di koroborasi dengan sumber sejarah lain.

Kisah Lontar Negarakertagama

Penting rasanya menelusuri riwayat Naskah Negarakertagama untuk menimbang sampai sejauh mana originalitas keterangan yang terkandung didalamnya.  Ini seperti halnya menakar naskah PRRBN yangdianggap meragukan dari sisi fisiknya. Dalam deskripsi umum tentang Negarakertagama yang  judul aslinya  Desa Warnnana, isinya menguraian tentang hubungan keluarga raja, para pembesar negara, jalannya pemerintahan, adat istiadat, candi makam para leluhur, keadaan ibu kota dan nama serta keadaan desa-desa perdikan, yang dikisahkan olehMpu Prapanca tatkala menemani  Sang Prabu Hayam Wuruknapak tilas dari Majapahit ke Lumajang pada 1359 M.  Naskah tersebut ditulis oleh Mpu Prapanca dalam bentuk pujasastra untuk menghormati prabu Hayam Wuruk dan kejayaan Majapahit.  Prapanca menulisnya di pelosok Desa Kamalasana,disaat dirinya  diasingkan oleh pihak kerajaan.  Nama Prapanca adalah nama samaran yang artinya “bingung”, nama aslinya menurut Slamet Muljana adalah Dang Acarya Nada Indra,  putra dari  Mpu Narendra yang memegang jabatan sebagai  Dharmadyaksa ring kasogatan, atau Ketua dalam urusan agama Budha. 

Naskah Negarakertagama yang dijadikan rujukan sejarahwan maupun para penulis buku sejarah selama ini menggunakan  terjemahan dan tafsir Bahasa Indonesia karya  Prof DR Slamet Muljana (dicetak tahun 1979) berdasarkan karya Dr NJ Krom yang diterbitkan tahun 1919.  Sebelum NJ Krom, penterjemah Belanda lainnya yaitu Dr JHC Kern pada tahun 1905-1914 juga melakukan upaya yang sama,  menindak lanjuti terjemahan Dr JLA Brandes (1902) yang hanya sebagian menterjemahkan dalam bahasa Bali.  Tahun 1974 Zoetmulder menterjemahkannya dalam  bahasa Inggris, demikian pula Theodor Pigeaud (1960-1963), dan terjemahan terbaru dalam bahasa inggris dilakukan oleh Stuart Robson di Leiden yang menggarapnya sejak 1979.

JLA Brandes  adalah penemu naskah Negarakertagama pada November 1894 di antara puing-puing Istana Cakranegara, Lombok,  Setelah sebelumnya tentaraBelanda meluluhlantakan Keraton Raja Karangasem. Diterbitkan olehnya dalam judulNagarakretagama, Lofdicht van Prapanca op koning Rajasanagara, Hayam Wuruk van Majapahit, uitgegeven naar het eenige daarvan bekende handschrift aangetroffen in de puri te Tjakranegara op Lombok, Dan Brandes pula yang mengubah judul pujasastra gubahan Mpu Prapanca itu menjadi Negarakertagama, setelah dirinya menambahi kolofon dalam terbitannya dengan kalimat Iti Nagarakretagama samapta (inilah Negarakratagama selesai dikisahkan) berdasarkan kata penutup dari Arthapamansah sebagi penyalin naskah yang selesai ditulis pada 20 Oktober 1740.  Padahal Mpu Prapanca menamakan kakawinya itu Desa Warnnana. 

Naskah yang ditemukan Brandes sebelum diserahkan ke Indonesia oleh Ratu Juliana tahun 1973, sempat menjadi koleksi  Perpustakaan Universitas Leiden Belanda dengan nomor koleksi kode L Or 5.023.  Dan sekian lama naskah tersebut menjadi satu-satunya naskah Negarakertagama yang ada. Namun seiring waktu, akhirnya mulai ditemukan Naskah rontal Negarakertagama lainnya. Setidaknya Di Bali dan lombok ditemukan kembali lima  naskah Negara Kertagama yang disimpan di beberapa tempat. Yaitu di Antapura Lombok (ditemukan tahun 1978), Grya Pidada

Karangasem Bali (1978), Grya Pidada Klungkung (1 turunan naskah), dan di Grya Carik Sideman (2 turunan naskah). Berarti saat ini ditambah dengan yang ditemukan oleh Brandes , semuanya berjumlah 5 naskah Negarakertagama/Desa Warnnana. Adanya temuan tersebut bukanlah hal yang aneh, mengingat Kegiatan menulis lontar/rontal dan menyalin naskah memang sudah menjadi tradisi di Bali dan Lombok. Selain sebagai upaya pelestarian juga berkaitan dengan tradisi agama dan budayanya.  

Yang ditemukan Brandes di Puri Cakranegara penyalinnya bernama Arthapamansah. Dan kemungkinan Arthapamansah ini menyalinnya dari naskah induk yang dibawa Keluarga Kerajaan Kediri ke Lombok  yang saat itu berada dibawah kekuasaan Kediri. Naskah tersebut  kemungkinan bukan naskah rontal asli yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Karena sampai sejauh ini tidak ada keterangan pasti yang menjelaskan keberadaan rontal asli Negarakertagama yang ditulis langsung oleh Mpu Prapanca. Sedangkan yang  tersimpan di  Musium Mpu Tantular

merupakan salinan  yang dilakukan oleh Ida I Dewa Gde Catra dari lontar induk milik Ida I Wayan Pidada dari Griya Pidada Amlapura Karangasem. 

Terkait dengan Mpu Prapanca, Desa Kamalasana adalah nama sangsekerta dari Karangasem. Tempat Mpu Prapanca mengasingkan diri untuk menulis naskah Desa WarnnanaKamal artinya asam dan sana bermakna tempat, maknanya sama dengan Karangasem.  Kenapa Mpu Prapanca menulisnya di Bali tidak di Majapahit? Kemungkinan besar Mpu Prapanca, termasuk beberapa pujangga dari majapahit pindah dari Majapahit ke Bali seiring dengan perubahan situasi politik di Majapahit yang memburuk ditambah terjadinya bencana alam. Selain itu Bali merupakan wilayah kekuasaan Majapahit setelah ditaklukan Gajah Mada tahun 1343 M. yang perkembangan keagamaan maju pesat termasuk kegiatan tulis menulis.   

Berdasarkan hal diatas,  masuk akal jika naskah induk yang ditemukan tgl 7 Juli  1978 ini diduga  turunan naskah asli Mpu Prapanca. Karena saat ditemukan judulnya adalah Desa Warnnana, bukan Negarakertagama. Dan setidaknya Naskah ini belum terkontaminasi oleh kecurigaan adanya  pupuh/wirahma  yang dirubah dari aslinya, seperti dugaan terhadap naskah Negarakertagama yang disimpan Brendes di Belanda. Indikasi adanya “pemalsuan”  cukup beralasan tatkalaBrendes mengubah Desa Warnnana menjadi Negarakertagama.  Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan naskah ini selama tersimpan di Belanda. Tidak mustahil terjadi peroses penggubahan ulang. Karena bukan rahasia lagi, politik Belanda kerap menggunakan sumber sejarah bangsa Indonesia untukkepentingan memecah belah. 

Selain daya tahan naskah yang terbatas, Naskah rontal memiliki kelemahan juga dalam hal keotentikan.  Prof. Dr. P. J. Zoetmulder, seorang sarjana yang ahli di bidang bahasa dan sastra Jawa Kuno menyatakan  bahwa pada saat penyalinan naskah rontal, resiko  adanya perubahan dan penggubahan kemungkinan besar selalu terjadi akibat ketidakfahaman bahasa rontal, kesalahan membaca, terlewati salah satu bagian, atau menafsirkan sendiri bagian yang rusak. Selain itu daya tahan daun rontal yang terpelihara karena sering dibaca bisa awet sampai 200 tahun.  Jika jarang dibaca dan disimpan tidak pada tempatnya (kropak) maka akan cepat rapuh. 200 tahun merupakan waktu yang singkat dibandingkan inskripsi pada prasasti atau logam yang memiliki daya tahan lebih lama.

Jika Negarakertagama selesai ditulis tahun 1365 M dan ditemukan tahun 1894 M, terdapat jarak 529 tahun. Rasanya kecil kemungkinan lontar yang ditulis oleh Mpu Prapanca dapat bertahan selama itu.  Kemungkinan besar  terjadi proses penyalinan nurun rontal selama beberapa periode.  Sedangkan parameter untuk memeriksa keotentikan rontal setidaknya memenuhi unsur adanya  Guru (pengajar yang sudah mumpunibertempat di Surya atau Griya), Sadhu (ajaran/ucapan orang suci) dan Sastra (isi/sastra weda). Apakah parameter tersebut juga digunakan Brandes saat menterjemahkan naskah itu di Belanda? Tidak ada yang tahu. 

I Dwa Gde Catra menceritakan kepada I Ketut Riana bahwa Belanda tahun 1930 membagikan naskah Negarakertagama dalam hurup latin yang isinya tidak sesuai dengan hurup aslinya, serta tidak sejalan dengan guru lagunya. Naskah tersebut disimpan di Puri Madura, Karangasem, Geria Pidada, Tabanan, Gianyar dan Buleleng.  Oleh dirinya, berkat bantuan dana dari Ida Bagus Oka, gubernur Bali pada saatitu,  naskah tersebut dikumpulkan untuk  direvisi dan ditulis ulang, hasilnya kemudian disimpan di Musium Mpu Tantular Sidoarjo, sedangkan kumpulan naskah asli pemberian Belanda disimpan di Puri Kanginan Amlapura. Namun naskah tersebut bukan naskah yang terdapat di Griya Pidada yang kelak diterjemahkan oleh I Ketut Riana.  

Perkembangan tafsir dan analisa sejarah terus berkembang,  Selain terjemahan hasil  Slamet Muljana, juga terdapat  terjemahan karya  Kawurjan (2006) dan Suhardana (2008)  dengan teks Bahasa Jawa kuno namun tanpa disertai teks asli dalam hurup Bali. Terjemahan terkini dilakukan oleh Prof. Dr.Drs. I Ketut Riana, S.U. dibukukan dengan judul Kakawin Desa Warnnana Uthawi Negara Kretagama (2009) berdasarkan naskah rontal yang disalin oleh Ida I Dewa Gde Catra dari Naskah Desa Warnnana milik Gria Pidada Karangasem yang ditemukan di Grya Pidada itu. Walau Kondisi lontar saat disalin ulang dalam keadaan rapuh, namun  proses penyalinan mengikuti naskah induknya.  Bagian lontar induk yang bolong/rusak maka pada salinannya pun dikosongkan agar tidak terjadi interpetasi baru. Penyalinan yang dilakukan I Dewa Gde Catra itu adalah untuk memenuhi koleksi Musium Mpu Tantular, Sidoarjo.

Upaya penterjemahan oleh Ktut Riana tetap mengacu pada terjemahan Slamet Muljana dengan beberapa koreksi. Kelebihan terjemahan I Ktut Riana dibandingkan terjemahan lainnya yaitu  di cantumkannya hurup Bali sesuai dengan naskah aslinya.  Adanya teks  hurup Bali ini akan meyakinkan pembaca untuk turut menguji hasil terjemahan dan penafsiran yang dilakukannya. Selain itu, karya I Ketut Riana menyebut istilah pujasastra dengan kakawin yang menggunakan wirama dengan guru lagu sebagai ritme nyanyian. Bukan pupuh seperti  karya Slamet Muljana atau karya  lainnya. Dua kelebihan diatas menjadi penting untuk menguji wirama (pupuh menurut versi Slamet Muljana) yang berkaitan dengan Dyah Lembu Tal dan Raden Wijaya. Secara umum buku terjemahan I Ketut Riana ini lebih kumplit karena mengoreksi pula beberapa candra sangkala.  

Pupuh lazimnya digunakan dalam geguritan dan macapat.  Menurut Prof Dr I Nyoman Weda Kusuma MS ,Guru Besar Bidang Ilmu Sastra di Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali menjelaskan, geguritan lebih mirip mmacapat pada sastra Jawa, sedangkan kakawin merupakan kidung asli Pulau Dewata. Jika Mpu Prapanca menulis Desa Warnnana di Desa Kamalasana atau di Desa Karangasem Bali, maka logis jika karyanya kemudian disebut Kakawin Desa Warnnana, bukan geguritan yang khas sastra Jawa.

 Polemik Lama dan Tafsir Baru 

 

Kelemahan tafsir Negarakertagama  Karya Slamet Muljana  dan karya lainnya yaitu tidak disajikannya teks dan hurup aslinya.  Sehingga dari apa yang diterjemahkan tidak menjamin isi naskah aslinya. Dengan demikian ada beberapa hal yang tentu sulit dibuktikan karena bisa saja terjadi salah penafsiran.  Menurut Dugaan penulis,  khusus untuk kedua pupuh terjemahan Slamet Muljana ini terdapat kekeliruan dalam menafsirkan kata dan kalimat yang berbuntut panjang terhadap status geneokologis Dyah Lembu Tal dan Raden Wijaya. Untuk itu  Terjemahan  I Ketut Riana bisa dijadikan pembanding terhadap terjemahan Selamet Muljana.  Maka dibawah ini, disajikan sajikan  dua terjemahan dari pupuh yang sama dari kedua penterjemah diatas.

Terjemahan Slamet Muljana pada pupuh 46 bait 2 tertulis  : ndan rakwekin atmwamintiga siran/ wwaɳ sanak arddapar, apan rakwa bhatara wisnu mamisan/ parnnahniran tan madoh, lawan/ çri narasinhamurtti wka ri dyah lmbu tal/ suçrama, saɳwireɳ laga saɳ dinarmma ri mirn boddapratistapagöh.  Artinya : Perkawinan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga, Karena Batara Wisnu dengan Batara Narasingamurti, Akrab tingkat pertama, Narasinga menurunkan Dyah Lembu Tal, Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Buda.

Terjemahan Slamet Muljana pada Pupuh 47 bait 1 : dyah lmbu tal/ sira maputra ri saɳ narendra, na donniran rsep amiɳtiga len suputri, na lwir pawornni pakurn haji saikacitta, sajñanirajña kinabehan aweh suken rat. Artinya : Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata, Dalam hidup atut runtun sepakat sehati, Setitah raja diturut,menggirangkan pandang, Tingkah laku mereka semua meresapkan, 

umumnya sejarahwan meyakini bahwa pupuh 46 menegaskan bahwa Narasinhamurtti  adalah ayah Lembu Tal.  Selanjutnya ditafsirkan bahwa Lembu Tal adalah perwira yuda (sang wireng laga) yang dicandikan di Mireng. Seorang perwira yuda identik dengan lelaki yang gagah perkasa.  Hal tersebut dipertegas dengan pupuh 46 yang menyebutkan pula bahwa Dyah  Lembu Tal adalah “Bapa Baginda Nata”. Maksud Baginda Nata disini adalah Kerta Rajasa Jaya Wardhana, nama resmi  Raden Wijaya yang bernama lengkap Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana.  Adanya kata “bapa”  itu  yang menegaskan Dyah Lembu Tal sebagai seorang lelaki.

Alasan berikutnya yang mendukung pendapat Dyah Lembu Tal sebagai seorang lelaki, ditinjau berdasarkan penafsiran kata “Lembu” yang lajim disandang oleh lelaki. Seperti halnya Lembu Sora, Lembu Peteng, Lembu Ijo, dll, semuanya adalah lelaki. Tidak ada tokoh sejarah klasik wanita memakai kata Lembu.  Dalam perdebatan, kata Lembu kerap  dijadikan asumsi untuk mendukung Dyah Lembu Tal sebagai lelaki.  Sedangkan kata Dyah juga bukanlah nama yang merujuk pada wanita. Kaum Lelakipun menggunakan kata Dyah sebagai tanda kebangsawanannya, seperti Dyah Ranawijaya, Dyah Hayam Wuruk, Dyah Wijaya dll. Kata Dyah sepadan dengan kata Raden. 

NegaraKrtagama dianggap sumber sahih, karena Mpu Prapanca tidak akan gegabah dalam menulis karyanya. Apalagi kakawin yang ditulisnya itu merupakan pujasastra terhadap Majapahit yang mencapai kegemilangan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Jadi kecil kemungkinan terjadi  kesalahan Prapanca dalam  menuliskan jenis kelamin Dyah Lembu Tal.  Sumber lainnya yang secara tidak langsung mendukung bahwa Raden Wijaya tidak memiliki hubungan darah dengan Sunda termaktub dalam Prasasti Belawi. Disebutkan bahwa Raden Wijaya (Sri Maharaja Nararyya Sanggramawijaya) adalah keturunan Rajasa/Ken Arok . katarajasawangsamaniwrndakastena  memiliki arti   pelindung permata Wangsa Rajasa). 

Dengan demikian maka jelas bahwa Raden Wijaya tidak memiliki darah Sunda. Semua analisa diatas menganulir catatan Wangsakerta dalam PRRBN. Dan menjadi rujukan bagi penulisan buku-buku sejarah tentang Majapahit. Contohnya Buku berjudul Girindra Pararaja Tumapel (Terbitan Pena Ananda Indie Publishing tahun 2013)   karya Siwi Sang, tetap  bersikukuh pada Negara Kretagama terjemahan  Slamet Muljana.  Menurut Siwi Sang, PRRBN terkecoh dengan istilah Dyah yang dianggap wanita.  Dan untuk menjembatani hubungan antara Sunda dan Majapahit maka Siwi Sang  memaksakan nama Arya Bangah sebagai putra Dyah Lembu Tal yang lahir dari selirnya yang berasal dari Pajajaran. Sedangkan dari Istri pertama Dyah Lembu Tal melahirkan Raden Wijaya. Artinya Raden Wijaya dan Arya Bangah adalah kakak beradik lain ibu.

(dimuat di HU.Kabar Priangan/ bersambung)
dari diskusi interaktif di Group Majapahit (Wilwatikta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s