~Surat dari ayah~

Anakku, seperti org tua lainnya, ayah ingin memberikan semua yg terbaik buat kalian: pendidikan terbaik, makanan terbaik, pelayanan kesehatan terbaik, dan pengasuhan terbaik yg bisa ayah lakukan. Inilah bekal yg bisa ayah berikan pd kalian saat ini di tengah keterbatasan yg ada.

Kini kalian bisa sekolah, bisa les atau bahkan kursus apa yg kau sukai. Buku, majalah, dan juga mainan ayah sediakan yg terbaik. Kalian pun ayah sekolahkan di sekolah agama, bukan supaya jadi ahli agama, tetapi supaya bisa memiliki pemahaman dasar agama yg memadai dan bisa bersosialisasi dgn lingkungan secara baik.

Anakku, ayah tdk akan membawamu pd keyakinan ayah saat ini, apalagi memaksamu. Ayah menyadari bahwa kebenaran bukanlah sebuah destinasi. Tak seorgpun dpt membawamu kepadaNya, karena kebenaran bukanlah sebuah tempat. Tak seorgpun dpt menunjukkannya kepdmu karena ia bukan sebuah benda. Tak seorgpun dpt memaksakan keyakinannya pdmu, begitu pula ayahmu ini.

Ayah sering memperhatikan bhw org bisa berganti keyakinan setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu: ada yg bergeser keyakinannya dari fundamentalis ke liberalis (atau sebaliknya), ada yg bergeser sikap politiknya dari kanan ke kiri (atau sebaliknya), ada yg bergeser imannya dari percaya ke tidak percaya (atau sebaliknya), begitulah yg terjadi sepanjang hidup manusia, seperti org berganti baju.

Dulu waktu ayah masih kecil, sama seperti kalian juga saat ini, ayah percaya karna ada rasa takut akan hal2 yg tdk bs dibuktikan —sekarang ayah tdk lagi seperti itu. Ayah tdk lagi percaya pd hal2 yg tdk bisa dibuktikan. Apapun itu.

Sejatinya anakku, dlm jangka pendek ayah tdk merasakan perubahan tsb, tetapi dm jangka panjang ayah merasakan dgn jelas bedanya. Setiap hari ketika ayah mempelajari hal baru, keyakinan ayah tdk langsung bergeser tapi dlm jangka panjang ayah merasakan bhw ada yg sedang diam2 berubah. Perubahan tsb bahkan pd puncaknya terkadang terasa sgt dramatis.

Mungkin begitupula yg terjadi pd setiap orang: berubah dan terus berubah, bertumbuh dan terus bertumbuh. Perubahan itu pasti, bahkan ketika kita mencoba melawannya. Daripada kita kelelahan melawannya, lebih baik kita menikmatinya. Sambil menebak ke mana arah alirannya, ke mana perubahan tersebut menuju. Itu saja.

Lalu, kau pun mungkin bertanya. Jadi apa yang penting?

Anakku, hal paling penting dlm hidup ini adalah apa yg kita perbuat, bukan apa yg kita yakini. Boleh saja kita meyakini apapun, tapi apakah keyakinanmu itu mendorong kamu berbuat baik atau justru mendorong kamu berbuat jahat? Sebab bisa saja keyakinanmu itu baik, tetapi jika tindakanmu merugikan org lain maka pentingkah keyakinanmu?

Boleh saja posisi keyakinanmu atheis, agnostik, pantheis, dsb, tdklah penting buat ayah.

Bagi ayah, hal terpentingnya adalah apa yg kamu perbuat.

Anakku, ayah akan memandangmu sbg manusia seutuhnya dan kemanusiaanlah yg menjadi ukurannya. Ayah hanya akan melihat pemahamanmu terhadap keadilan, kejujuran, belas kasihan, kebaikan, dan empati. Ayah hanya memandang apakah tindakanmu mempromosikan kebaikan atau justru membuncahkan kejahatan. Perihal apa keyakinanmu tdklah penting, apapun itu.

Salam sayang ayahmu.
‪#‎pelangi‬ itu indah karna memiliki warna2 berbeda, indah karna harmonis dlm perbedaan.

 

-D Etty Sukmawati-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s