PESONA BUDAYA KALA PURNAMA : Akar Tradisi Perhelatan Bulan Purnama

“….. Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk Nusa ….”, demikianlah kutipan dua baris syair lagu “Gebyar-Gebyar” karya almarhum Gombloh. Nuansa keriangan dalam syair lagu itu mengingatkan kita kepada tembang dolanan Jawa:
“Yo pro konco dolanan ing njobo
Padang mbulan padange koyo rino
Rembulane sing awe-awe
Ngelikake ojo podo turu sore”.
Dalam tembang itu, dahulu — ketika cahaya lampu listrik belum mendominasi terang malam sebagaimana sekarang — cahaya sinar bulan purnama menjadikan gelap malam bagai terang di siang hari (padange koyo rino). Pesona bulan terang seolah tangan yang melambai-lambai (rembulane sing awe-awe), yang mengajak anak-anak untuk bermain di luar rumah (dolanan ing njobo).

Kata “purnama” adalah istlah Jawa Kuna, yang merupakan istilah serapan dari Bahasa Sanskreta “purnamas”, dalam arti: bulan penuh, hari bulan purnama (Zoetmulder, 1995:805). Istilah ini antara lain disebut dalam kitab Brahmandapurana (20, 134, 161), Udyogaparwa (120), Sarasamuccaya (261.2), Ramayana (5.1, 7.33, 8.88), Hariwangsa (15.7), Bhomakawya (21.3), Sumanasantaka (10.1), Hariwijaya (17.3), Tantupanggelaran (92), Korawasrama (58), dan Kidung Harsyawijaya (4.1). Hal itu memberi petunjuk bahwa perihal bulan purnama telah menjadi pembicaraan dalam dunia susastra setidaknya sejak abad ke-9 Masehi.

Dalam sistem kalender Jawa, yang mendasarkan pada peredaran bulan (lunar system), rentang waktu satu bulan (30 hari) dibagi menjadi dua (paro), yaitu: (1) suklapaksa (paro terang), dengan durasi waktu bulan tanggal ke-1 sd 15; dan (2) kresnapaksa (paro petang), dengan durasi bulan tanggal ke-16 sd 30. Bulan purnama yang berlangsung pada malam hari ketika bulan tanggal ke-14 berada di penghujung suklapaksa, dan sekaligus pada peralihan dari suklapaksa ke kresnapaksa. Kala itu adalah kulminasi terang sinar bulan, karena rembulan tengah dalam wujud bulat penuh (ndadari, sak tledok). Bahkan, jika langit tak berawan, di sekitar bulan bundar terdapat cincin cahaya (hallo, aureol), yang oleh masyarakat Jawa dinamai “mbulan kalangan”.

Dalam keberadaannya yang demikian, sang candra (bulan) tampil cantik mempesona. Bukan saja karena tengah bulat penuh (full mon), namun juga optimal dalam menerangi gelap malam. Berkat kecantikannya itu, bulan menebar pesona bagi siapapun, tak terkecuali bagi anak-anak untuk berlama-lama menikmati indahnya malam dan mengingatkan agar tidak tergegas tidur terlampau sore (ojo turu sore-sore). Bagi pria dewasa, kecantikan bulan itu dielu-elukan seperti paras ayu seorang perempuan, sehingga dapat difahami bila terdapat syair lagu
“….. Di wajahmu ku lihat bulan
Menerangi hati gelap rawan …..”.
Petikan syair lagu ini mengingatkan pada teks kitab Brahmandapurana (20) yang berbunyi “…. mukhanya kadi wulan purnama (parasnya bagai bulan purnama)”.

Sejumlah susastra Jawa Kuna melukiskan kejelitaan wanita dengan kecantikan bulan. Kitab gancaran Pararaton misalnya, membandingkan kecantikan Ken Dedes dengan Sang Hyang Sasadhara (Rembulan). Oleh karena itu, dara cantik keluarga istana acap dinamai dengan meminjam nama bulan sebagai unsur nama diri. Bahkan tak tanggung-tanggung, beberapa kosa kata yang bersinonim arti dan menunjuk pada bulan digunakan untuk nama diri. Putri mahkota kerajaan Kadiri (Pangjalu) mengambil nama ” Galuh Candra-kirana”, dan putri dari dinasti (vamsa) Warmmadewa dari Balidwipamandala bernama “Induja-ketana”.

Serupa itu, dalam legenda Jawa dikisahkan adanya widyadari cantik yang “membumi” istri Jaka Tarup bernama “Nawang Wulan”, dan anak perempuan yang terlahir dari pernikahan silang keduanya bernama “Nawang Sih” atau “Nawang Sasi”. Sederet unsur nama itu, yakni “candra, kirana, induja, ketana, wulan, sasi dan sasa” adalah kata-kata yang bersinonim arti dan kesemuanya menunjuk pada bulan. Memang, dalam kategorisasi dua berkenaan dengan unsur-unsur jagad raya (dualisme kosmologis), wanita sekategori dengan rembulan, malam, warna putih, dsb, sehingga dalam balada cerita Panji, pola integrasi-disintegrasi-reintegrasi antara pasangan kekasih dewi Sekartaji-Panji Asmorobangun oleh W.H. Rassers diibaratkan dengan bulan-matahari, yang berkejaran namun tak pernah bersua hingga waktu lama. Selain itu, uniknya karakter biologis yang hadir secara periodik setiap bulan pada wanita produktif dinamai dengan unsur “bulan”, yaitu ” datang bulan”.

Pada tiga hingga empat dasawarsa terakhir, ketika dunia tengah “bermandikan sinar bulan purnama”, tak sedikit orang yang tergerak hati untuk tak melewatkan momentum bulan purnama dengan keluar rumah guna bersuka cita dalam beragam bentuk kegiatan. Anak-anak larut dalam keasyikan bersendagurau, bermain, tebak cerdas (cangkriman), menyanyi dan menari bersama. Para muda yang tengah lelap kasmaran pun memadu kasih sembari memuji kekasihnya — yang meski tak sungguh cantik — dengan menyatakan “elok bagai bulan purnama”. Para tetua duduk berkumpul di atas helai tikar untuk menembangkan syair lama. Para ibu tani bermain musik lesung, atau secara perorangan cukup dengan mendongengkan cerita luhur kepada anak-cucunya. Sementara, para rokhaniawan melaksanakan ritus, yang dalam bahasa Jawa Kuna disebut “amurnama”. Bagi yang tak melakukan kegiatan, ia cukup puas dengan memandangi dari kejauhan misteri alam yang mengundang decak kagumannya.

Pendek kata, kecuali remaja yang tengah patah hati dan pencuri yang kehilangan keleluasaannya untuk beropersasi karena benderang malam, segenap makhluk hidup — baik manusia, satwa ataupun tumbuhan — menyerap sari keindahan malam purnama dengan kesukacitaannya masing-masing. Relief cerita Parthajajnya pada teras ke-2 Candi Jajaghu melukiskan nuansa sukacita binatang malam dan tumbuhan besar di dalam hutan kala purnama tiba. Demikian pula, Kidung Malat (83) mengkisahkan tentang permainan gamelan di gedung wijil wetan pada malam purnama bulan keempat (kapat). Pada bagian lain (85) dari susastra ini, dikisahkan bahwa ketika purnama putri raja Gegelang sedianya hendak memainkan gamelan di taman, namun diurungkannya. Sebagai gantinya, ia memanggil juru bacangah (pencerita) untuk mefesitasikan cerita. Namun, karena juru bacangah itu tiada di tempat, maka Gunungsari bersedia menggantikannya.

Susastra lain, yakni kitab Panji Anggaeni berkisah bahwa pada malam terang bulan para wanita bermain ugem (semacam permainan dam) dan cuki (bermain kartu). Tak ketinggalan, kakawin Bharatayuddha (8.3-8) mengkisahkan tentang para wanita yang asyik bermain di benderang bulan purnama. Ada yang menyenandungkan surat cinta dari kekasihnya yang menimbulkan rasa kasmarannya, ada pula yang menyanyikan lagu-lagu pilu bermuatan kerinduan. Kakawin Gatotkacasraya (12.7-8) menceritakan, ketika bulan purnama telah meninggi, sejumlah orang yang berpesiar di areal tamasya bahari asyik bermain di pantai. Ada yang bernyanyi, bercerita secara bergantian, gemulai menari, dsb. Gambaran keriangan purnama juga didapati dalam catatan China pada kitab Ying-yai Shen-lan, yang menyatakan adanya sekelompok (20 hingga 30 orang) perempuan Jawa yang berbaris sambil bernyanyi bersahutan.

Pada masa sekarang, di tengah persaingannya dengan lampu-lampu mercury yang menjadikan setiap malam bagai malam bulan purnama, ternyata bagi sebagian orang bulan purnama masih dirasakan pesonanya. Bahkan, bagi warga perkotaan yang saban hari hidup dalam suasana terang siang ataupun malam, terang purnama menjadi buah kerinduan. Oleh karena itu, dapatlah dimengerti bila dalam satudasawarsa terakhir di berbagai daerah dihelat acara seni-budaya yang memilih hari tepat di malam bulan purnama. Emha Ainun Najib misalnya, menyelenggarakan pengajian rutin bulanan “Padang Mbulan” di Jombang. Dewan Kesenian Kabupaten Blitar (DKKB) telah empat tahun berturut-turut menyelenggarakan acara seni di Pendapa Teras II Candi Penataran bertajuk “Purnama Seruling Penataran”. Perhelatannya pernah dijejaki oleh Kabupaten Pasuruan — meski hanya berlangsung setahun di pelataran Candi Jawi. Kabupaten Banyuwangi juga pernah menggelar acada sejenis di pesisirannya, yang selaras dengan syair lagu Banyuwangen “Wulan andung-andung …. ing pesisir Banyuwangi”.

Walau hanya sesekali, sejumlah daerah juga menyelenggarakan perhelatan seni-budaya di malam purnama. Pada tanggal 1 Nopember 2015 misalnya, meski telah lewat lima hari dari tibanya purnama kasidi, di halaman Pendopo Agung Kabupaten Malang diselenggarakan “Festival Sugeng Purnama”. Acara yang difasilitasi oleh RH (Ridwan Hasim) Center yang menampilkan aneka tari Nusantara ini digagas untuk dapat dilakukan tiap tahun di Malang Raya, sehingga komunitas-komunitas mahasiswa daerah yang tengah studi di Malang Raya memperoleh ruang ekspesi dan babar kreasi bersama dengan komunitas seni di Malang Raya.

Semoga ancang untuk menjadikannya sebagai agenda tahunan ini menjadi kenyataan. Syukur bila frekuensinya bisa diperbanyak menjadi agenda bulanan atau setidaknya triwulanan secara bergilir pada ketiga daerah di Malang Raya tepat di Malam Purnama. Jika dapat direalisasikan, maka tradisi aktifitas seni-budaya di Malam Purnama, yang jejaknya telah berlangsung sejak berabad-abad lalu ini mendapatkan bentuk yang baru dalam kesinambungannya. Amin.

Sengkaling, 1 Nop. 2015
Dwi Cahyono

Catatan: tulisan ini adalah teks Orasi Budaya (dengan sedikit perubahan), yang telah diorasikan dalam “Festival Sugeng Purnama” di halaman Pendopo Kabupaten Malang, Minggu 1 Nopember 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s