Tuhan & Sang Waktu

Mengapa selalu ukuran waktu sebagai pedoman?
seperti halnya dengan kalimat

” biar waktu yang akan membalasnya.”

Apa waktu yang akan membalas kesakitan kita?
atau sebuah kalimat yang kita sendiri belum tahu kapan, terbalaskan atau tidak? ataukah tidak langsung kita percaya akan adanya karma.

karma tidak semuanya buruk ada karma baik dan ada karma buruk, lalu mengapa kita sebagian orang percaya dan tidak percaya.

Pengelompokan, pola pikir, perbedaan yang dibesar2kan, dan egoisme

Kita secara tidak langsung menyandarkan diri pada waktu, kita percaya pada waktu yang akan membalas semua, karena waktu kepanjangan tangan Tuhan. benarkah demikian?

Apa bukan Tuhan sendiri yang akan menghukumnya? benarkah?
bukankah Tuhan selalu mengampuni hambanya yg berbuat salah?
kenapa ada surga dan neraka? kalau Tuhan maha pengampun?
kalau Tuhan maha tahu kenapa harus ada surga dan neraka kenapa tidak surga saja?

misalkan aku bakalan jadi seorang teroris yang membunuh banyak orang kenapa aku diciptakan?
bisa dibilang Tuhan memberi kesempatan untuk berubah? kalau Tuhan sendiri Maha Tahu dan mengetahui endingnya aku gak bakalan berubah kenapa harus di ciptakan dan berjuta orang buruk lainnya, wong Tuhan tahu endingnya seperti apa berubah atau tidak, kalau tidak berubah “wurung” saja gak usah terlahir beres kan. Dan ini berlaku bagi semuanya maka hanya kebaikan saja yg ada
dan hanya ada surga saja.
Dan tidak ada kehancuran-kehancuran yang tercipta oleh otak manusia.
Tuhan itu ada apa tidak? sang waktu ada tidak?

Tidak ada yang tahu dimana posisi Dia berada, wujud atau tidak hanya katanya dan keyakinan
bahwa Dia ada. Tidak ada yang salah dari ini, dan semuanya yang tercipta wujud dari Aku. begitu kira2 ayat yang pernah aku baca, semua kepanjangan tangan dari tuhan.

kalau sang waktu, nyata adanya dia berada di sekeliling kita
dari pagi sampai malam menjelang. Posisinyapun bisa terlihat dari beranjaknya matahari dan bulan.

Lalu manakah yang maha..Tuhan ataukah waktu

waktu adalah eksistensi keberadaan Tuhan dalam diri pribadi, ada dalam hari terdalam bilamana mampu mengetahuinya. Dibutuhkan keyakinan, cederdasan akal, kejernihan pikiran, dan meredam dogma lama.
Saatnya diri kita memerdekakan diri sendiri, merdeka dalam segala aspek.
Berpikir dengan hati dan merasa dengan pikiran artinya dahulukan…selalu dahulukan rasa atau hati untuk
menjamah ranah dimana tak ada campur tangan pikiran, setelah hati mantap dengan apa yang dirasa gunakan
akal untuk memolakan suatu sistem ketuhanan. Bukan menyosokkan diri sebagai Tuhan, hanya mengetahui saja pola pikir Tuhan, pola kerja Tuhan, alam dan waktu untuk mengetahui kebenaran yang hakiki dan bisa menjalani hidup ini dengan mantap. Bukan karena ketakutan-ketakutan akan dosa dan imbalan surga neraka, tapi secara sadar diri yakin bahwa apa yang salah itu salah dan yang benar itu benar.

Tuhan tidak mengenal istilah imbalan-imbalan, itu hanyalah hukum dagang manusia siapa yang berbuat baik akan mendapatkan pahala dan yang berbuat buruk akan mendapatkan dosa.

Kalau kita sadar itu semuanya maka secara sadar diri kita akan selalu berpegang teguh pada kebenaran dan tak berbuat buruk kepada semua makluk ciptaannya.

Apa salah?

Tentu tidak, karena adanya rules dari Tuhan maka dapat mengerem atau mengurangi sifat dasar manusia.

Mengapa Nabi selalu datang dari timur tengah? kenapa tidak di Nusantara?

Karena di Timur Tengah perlu sebuah aturan yang mengatur tatanan masyarakatnya yang kacau balau. Aturan yang baku, jika aturan itu dibuat oleh manusia maka itu semua gagal, tapi jika mereka tahunya itu aturan datang dari langit maka setidaknya mereka akan mengamini.

Di Nusantara sudah baku aturannya pada jaman dahulu tidak tertulis tapi masyarakat Nusantara mengakui adanya tatanan tak tertulis itu. Dengan masuk dan berkembangnya Agama Hindu di Nusantara dan besertanya berdiri pula kerajaan kecil dan besar maka tatanan aturan itu mulai ada.

Sebelum agama berdatangan tatanan masyarakat kita jauh lebih baik dari Timur tengah ataupun negara lainnya. Karena adanya sifat gotong-royong, tepo seliro, hormat-menghormati, eling lan waspodo, dan masih banyak lagi. Dan mereka meyakini adanya karma baik dan buruk, surga dan neraka akan dialami semasa hidup saja. Jika pikiran mereka bahagia, gembira, ayem, senang maka surga, dan jika amarah, dengki, sirik, dll maka nerakalah tempatnya.

Jika penulisan ini menyudutkan pola pikir dan tidak mengembangkan wawasan maka terlalu sempit pikiran dan hatimu, bukalah luas-luas lapangkanlah maka apa yang tersembunyi akan terungkap dan Tuhan tak membutuhkan kalian untuk membelanya karena Tuhan sudah Maha segalanya, belalah sesamamu yang membutuhkan pertolonganmu jangan terlalu mendongak keatas liat sekelilingmu. Belalah mereka yang terhimpit, belalah mereka yang membutuhkan uluran tanganmu tanpa mengharapkan balasan dari Tuhan…iklas adanya.

Sesungguhnya orang yang terhimpit, berkesusahan, teraniyaya dialah yang terdekat dengan Tuhan, Alloh, Jesus, Budha, Sang Widi Wase, Gusti Pengeran terserah kalian memanggil namaNya. Jika kamu membantunya dan meringankan sedikit beban hidupnya maka kamu juga akan lebih dekat lagi dengan Tuhan.

Mulailah dari keluarga, jika di keluargamu semua tercukupi, lihat disekelilingmu…tetanggamu adakah yang memerlukanmu, temanmu.

Semoga aku, kamu, kalian, mereka segera tersadar bahwa devide et impera masih senjata ampuh untuk memecah belah kita sebagai bangsa, dan senjata ampuh untuk mematikannya hanya dari budi djati yang tumbuh dari hati yang berpegang teguh pada sila-sila PANCASILA sebagai dasar negara ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s