Internet wifi di malang jatim

MNC Playmedia dengan disc pembayaran sampai dengan 50% untuk pemasangan pertama, paket yang tersedia mulai 7mbps-100mbps.

Paket Mars,venus,galaxy, dan super galaxy adalah paket TV ch jadi bundling internet wifi plus tv kabel jadi pelanggan mnc tidak perlu lagi dobel2 dalam pembayaran, hanya dengan 1 account/pembayaran bisa menikmati 2 layanan sekaligus.

For more information feel free to contact us….

Telp,wa,sms : 0831 3039 4806

Kondangan Zaman Kekinian

Buat yg mau hajatan, ini lumayan Buat Ditiru Konsep Acaranya

KONDANGAN ZAMAN KINI
Pengalaman saya diundang untuk menghadiri pesta pernikahan mewah anak seorang pejabat sbb : …
Ketika sampai di lobby …ada 2 pintu.

Pintu-1 tertulis “Untuk keluarga laki-laki”

 Pintu-2 tertulis “Untuk keluarga perempuan”

Saya lantas masuk melalui pintu keluarga pengantin laki-laki. Saya berjalan beberapa langkah dan melihat ada 2 pintu lagi.

Pintu-1 tertulis “untuk tamu laki-laki”

Pintu-2 tertulis “untuk tamu perempuan.”

Kemudian saya masuk melalui pintu untuk tamu laki-laki. Saya berjalan beberapa langkah melihat ada 2 pintu lagi.

Pintu-1 tertulis : “Untuk yang membawa kado”

Pintu-2 tertulis : “Untuk yang tidak membawa kado”.

Saya masuk melalui pintu yang tidak membawa kado. Setelah itu saya melihat ada 2 pintu lagi.

Pintu-1 tertulis : “Untuk yang membawa amplop”

Pintu-2 bertuliskan : “Untuk yang tidak membawa amplop”.

(Saya berkata dalam hati… “Syukurlah, ternyata ada ruang juga untuk yg datang dengan tangan kosong”). Lalu saya memilih untuk ke pintu 2.

Kemudian saya berjalan beberapa langkah dan ternyata ……

Saya sudah berada di jalan raya !!!
Wkwkwk, ternyata di jalan ada plang dg tulisan 

“Pulang sana, ngapain KONDANGAN modalnya batik doang”

​ANTARA FATWA DAN MBOKNEANCOK

Yo wis lah, anggap saja Basuki itu penista agama. Silakan ngamuk, njerit sampek ususmu metu. Yang penting ojok kebablasan. Kalau kebencianmu pada seseorang sudah menguasaimu maka pikiran dadi gak cerdas, rai tambah welek.

Sekarang banyak orang yang gayane koyok wong sakti. Bisa mendeteksi  atau tahu niat yang ada di dalam hati orang lain. Ada orang nangis dituduh air mata buaya. Senengane kok berprasangka buruk.

Ada Kyai mbelani Basuki, langsung dipertanyakan keIslamannya. “Wong Islam kok mbelani penista agama Islam?”. Pokoknya yang beda dengannya langsung dicap Anti Islam. Beda kok nggak boleh. Mbelani menungso dituduh mbelani cino, kristen.
Jadi ingat Gus Dur yang membela siapa saja, nggak melihat ras, suku atau agamanya. Tapi orang selalu berprasangka, selalu melihat agamanya, rasnya, sukunya ; akhirnya menuduh Gus Dur pluralisme, padahal humanisme. Banyak muslim yg gagal jadi muslim karena hal itu. Karena muslim itu menjaga, melindungi, menentramkan sesama manusia, tidak mengancam, menghina, merendahkan, hanya karena beda agama, suku dan ras.

Sudah hobinya berprasangka buruk ditambah kesempitan hati dan pikiran pula. Dapat bantuan handuk ada gambar (seperti) salib, ditolak, dituduh kristenisasi (prasangka buruk lagi). 

Padahal salib iku cuman kayu disilang. Bagi orang Kristen, itu simbol agama. Tapi bagiku ya cuman garis atau kayu disilang, tak berarti apa-apa. Kalo aku dikasih handuk gratis, nggak perduli gambar salib atau gambar setan, akan senang hati kuterima. 

Muslim atau non muslim tidak bisa dilihat dari kostumnya. Semua tergantung pada niat. Walaupun pakai kaos metal gambare pentagram, ndas wedus, bukan berarti Satanisme. Apa kalau pakai kaos gambar Jack Daniel’s terus dia adalah pemabuk? nggak juga. Jangankan mabuk, minum Equil saja nggak berani.

Pakai atribut agama lain (kostum natal) difatwa haram . Terus bagaimana dgn non Muslim di Aceh yg dipaksa pakai jilbab? Golek menange dewe ae arek-arek iku. 

Umat Islam di negeri ini berkembang pesat, tapi hanya di wilayah syariat teknis. Buanyak orang jilbaban, berbaju taqwa, tapi pemahamannya kolot, gampang ngamuk, gampang diprovokasi (atas nama Islam). Apalagi ulamanya yg sedikit-sedikit haram, haram kok sedikit-sedikit. 

—Jare simbah, di negeri yang mayoritas muslim ini harusnya label yang diperlukan adalah label haram. Seorang muslim otomatis akan selalu mengkonsumsi makanan yang halal. Kalau di Amrik sana mayoritas non muslim, mereka biasa mengkomsumsi makanan apa saja, jadi perlu label halal—

Jadi ingat saat gempa bumi Jogja dulu. Banyak yg menolak bantuan selimut dari Israel, karena mereka kolot : Israel itu Yahudi, musuh Islam. Padahal musuh Islam yg sesungguhnya itu bukan Yahudi, Kristen, Cino,..tapi KESEMPITAN, kesempitan pikiran maupun hati, gemblung total. 

Orang yg luas hati dan pikirannya, menyikapi sesuatu dgn prasangka baik (walau saat tertentu waspada itu juga perlu). Dan juga nggak gampang ‘masuk angin’, gampang disetir, gampang dibelokan dgn ideologi2 kacau. 

Menolak bantuan handuk dari Yahudi, tapi lupa kalau tiap hari ‘dibantu’ Yahudi. Dengan fesbuk kita bisa dgn mudah berkomunikasi dan silaturahmi jarak jauh. Bisa ketemu teman lama saat masih PAUD, reuni. Dan yang asyik kita bisa cari uang, promosi bisnis. 

Tapi dgn fesbuk pula kita jadi ‘bintang porno’. Apa pun kita share di tembok ratapan (wall) tanpa filter, walaupun itu hal yg pribadi banget. Update status dari bangun pagi sampai menjelang tidur, artis medsos. Kecanduan medsos produktivitas pun merongos

Fesbuk pula yg membuat kita terbiasa jadi pengecut, kurang ajar, mbokneancok, beraninya teriak di Medsos. Arek cilik komen nang statusku : “Kamu waras?”. Dengan rileksnya meng-kamu-kamu-kan orang, dikira umurnya sepantaran.

Kita terbiasa melihat sesuatu dari yang  tampak luar. Ini kostumnya Islam, ini seragamnya orang Kristen. Padahal sama-sama terbuat dari kain, benang. Opo bedane mesjid karo gerejo, sama-sama terbuat dari semen, batu bata ditumpuk-tumpuk…

Masjid atau bukan masjid itu tergantung pada niatnya ke kiblat atau nggak, ke Allah atau nggak. Walaupun di sawah kalau hati ke kiblat, sawah akan jadi masjid. Semua tergantung pada niat dan tujuan. Tapi yo ojok korupsi terus niate buat umroh….iku mbokneancok jenenge.

Nggak sedikit ustadzzz yg menkondisikan Islam sekarang seperti Islam jamannya Nabi di Arab jadul. Yang saat itu antar umat agama (Yahudi, Nasrani dan Islam) saling ‘mengintai’. Oke, bisa jadi di Arab sekarang kondisinya masih seperti itu, tapi tidak di negeri ini. Jarno ae wong Arab perang terus, diadudomba sama Amrik. Di sini gak usah ikut-ikutan. 

Sebelum kemunculan aliran-aliran keras, negeri ini sangat swejuk dan damai. Oleh mereka, kearifan lokal ditabrakan dengan agama. Orang yang memdalami Jawa dituduh kejawen, musyrik! Siapa bilang Jawa itu tidak Islam? 

Kearifan Jawa sama dengan nilai-nilai Islam. ‘Ngunduh wohing pakarti’ itu sama dgn ‘Faman ya’mal mitsqaala dzaratin khairay yarah..’ (intinya, semua perbuatan pasti ada balasannya), dan banyak lagi contohnya, golekono dewe. Kearifan lokal Jawa sudah terbukti keluhurannya dan Islam datang melegetimasi itu.

Dengan kearifan lokal itulah orang Nusantara lama banyak yg lulus jadi manusia; waskita. Bisa hidup rukun dalam harmoni dgn berbagai macam manusia, jin, gendruwo, wewe gombel. Orang sekarang belum lulus jadi manusia sudah belajar agama. 

Ormas-Ormas Islam itu sebenarnya tujuannya baik, memerangi kemasyiatan. Tapi banyak yg nggk simpati karena caranya yg terlalu keras, main pentung. Merusak citra Islam yg lembut dan damai. Dakwah pada orang lain harusnya lemah lembut, yg keras itu pada diri sendiri. Juga, orang ‘tersesat’ kok malah dipentungi, tidak ditunjukan jalan yg benar. 

Salutnya pada Ormas-Ormas itu, mereka selalu turun tangan terjun langsung ke musibah bencana. Itu keren, tapi lebih keren lagi kalau tidak pakai label, cap, merk, atribut, kostum, seragam. Mau berbuat baik, berbuat saja, nggak pakai nama agama, nama partai, nama organisasi, dsb..just hamba Tuhan. 

Maka saya setuju banget kalau para stasiun tipi menolak memberitakan sukarelawan bencana yg memakai atribut partai atau Ormas. 

Tetap semua kembali pada niat. Kegiatan amal diposting di Fesbuk niatnya ingin menginspirasi orang agar berbuat serupa, itu oke. Yg penting tidak untuk pencitraan. Karena pencitraan = pemalsuan = kriminal = mbokneancok.

Muslim sejati tidak memamerkan perbuatan baiknya, atau berbuat baik jangan sampai orang lain tahu. Atau kalau sudah level sufi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita berbuat baik (walau itu nggak mungkin), total ikhlas. 

Aku nggedabrus iki tidak dalam rangka menertawai kekonyolan saudara semuslim, seperti lalat yang berpesta di atas borok orang lain. Aku nggak anti tokoh tertentu, nggak anti Ormas itu..nggak kabeh. 

Sebenarnya kita ini sama kok. Jawa, Arab, Islam, Kristen, aku, kalian, Basuki, Habib, Joko, Mbah Ndimun, Slamet, Ormas garis keras, semuanya sama…sama-sama bingung aja. 

Kalau nggak ingin bingung, jadi Atheis saja, karena mereka sudah berhenti mencari kebenaran agama (Tuhan).  

Sekarang manusia hidup di era katanya, jarene. Jarene ulama iku, jarene kyai iki. Kalau muslim, kebenaran itu ada di Al Qur’an, Rasulullah (Qur’an berjalan) dan Allah. Kalau hadits masih boleh dikritisi. Omongan ulama, ustadz, kyai itu bukan kebenaran, itu tafsir. Jangankan ulamamu, Bukhari Muslim pun boleh dikritisi.

—Percoyo karepmu, gak percoyo urusanmu, karena tulisan ini juga bukan kebenaran—

Makane ojok nggaya dgn madzhabmu, aliranmu, nuding2 “sesat!”, membakar rumah dan mengusir dari tanahnya sendiri pada orang yg nggk sealiran dgnmu. Sama persis nasibnya dgn muslim Ronghiya yg dibantai, diusir dari negerinya karena minoritas dan berbeda keyakinan. Kelakuan rakyat Burma adalah gambaran diri mereka yg demi agama tega membunuh, padahal kalau demi manusia nggak akan tega. 

Wis ah….Ideologi itu damai, tapi sejarah itu kejam!
*mbokneancok = motherfucker
Post from.. @RobbiGandamana/fb

Cerita sore di warung lesehan 

​Siang tadi bertemulah aku dengan salah satu karibku di pekerjaan lamaku, singkat cerita dia bercerita pendek kata curhat tentang hidupnya. 

Aku mendengarkan secara hati-hati dan mencerna semua kalimatnya perlahan. Karena ini urusan dengan masa depannya atau lebih tepatnya masa depan mereka berdua. 

Pada intinya pacarnya menuntut untuk persiapan secara financial dan rmh untuk ditempati mereka nantinya setelah menikah. 

Secara dia sendiri hanya sebatas pegawai rendahan di kantornya. Apa mungkin dia bisa untuk perbaikan ekonomi sedangkan yang karibku takutkan adalah bahwa pikiran orang lain dia dompleng dari si perempuan mengingat calonnya adalah orang kaya dan sudah memiliki usaha sendiri. 

Dan aku lihat di pesan pribadinya bahwa kalau tidak ada kata sepakat tentang perbaikan financial dan rumah maka itu gak mungkin bisa terjadi dan sebaiknya diakhiri saja. 

Aku bingung menjawab dan menempatkan diri dimana. 

Akupun menimpali dengan sedikit bijaksana tanpa memihak dia karibku atau pacarnya yang nota bene aku belum mengenalnya secara langsung. 

Menuntut sesuatu itu wajar agar terlecut semangat untuk bisa bersama menggapainya, harus dukungan dua belah pihak dan itu wajar wanita meminta syarat seperti itu karena garansi kedepannya nasibnya nanti. 

Tapi sangat disayangkan dengan kalimatnya yang sedikit menohok karena terlalu keras penekanan dalam kata.. 

So if we can’t agree with this. Let’s finish this. 

Kesannya terlalu memaksakan pihak pria dan menjadikan pikiran, jika aku berusaha dan gagal apa tetap saja usahaku untuk maju gak di hargai, itu yang kutatap dari tatapan kosong karibku. Apa semuanya diukur dengan materi dan pencapaian dalam hidup. 

Memang seperti kata orang bahwa cinta saja tak bisa bikin hidup, masa istrimu kamu nafkahi dengan cinta, tapi cinta itu yang membuat semua rela untuk melakukan apapun agar pasangannya tersenyum bahagia.. Itu menurutku. 

Akupun juga bingung dibuat nya, terlalu pelik bagiku. Terlalu riskan. 

Aku lebih tepatnya menyarankan keduanya untuk bersabar dan saling mendukung satu sama lain untuk maju bersama, tanpa ada dukungan pasti tak akan menjadikan berkat bagi keduanya. 

Toh bukan melulu harus beli rumah, mobil, dsb. Masih bisa jalan lain dulu misalkan mengontrak/menyewa rumah dahulu untuk sementara. Atau mungkin tetap tinggal dirumah karibku sementara daripada membuang uang untuk sewa mendingan ditabung buat dp rumah itu lebih bijaksana daripada memaksakan diri punya tapi terbelit dengan hutang. 

Let’s thing simple if you can’t afford it don’t do it. Jangan berkecil hati kawan.. doaku selalu menyertaimu. 

Remember one thing.. There’s a will there’s always the way. 
#janganlupabahagia intinya