Internet wifi di malang jatim

MNC Playmedia dengan disc pembayaran sampai dengan 50% untuk pemasangan pertama, paket yang tersedia mulai 7mbps-100mbps.

Paket Mars,venus,galaxy, dan super galaxy adalah paket TV ch jadi bundling internet wifi plus tv kabel jadi pelanggan mnc tidak perlu lagi dobel2 dalam pembayaran, hanya dengan 1 account/pembayaran bisa menikmati 2 layanan sekaligus.

For more information feel free to contact us….

Telp,wa,sms : 0831 3039 4806

PESONA BUDAYA KALA PURNAMA : Akar Tradisi Perhelatan Bulan Purnama

“….. Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk Nusa ….”, demikianlah kutipan dua baris syair lagu “Gebyar-Gebyar” karya almarhum Gombloh. Nuansa keriangan dalam syair lagu itu mengingatkan kita kepada tembang dolanan Jawa:
“Yo pro konco dolanan ing njobo
Padang mbulan padange koyo rino
Rembulane sing awe-awe
Ngelikake ojo podo turu sore”.
Dalam tembang itu, dahulu — ketika cahaya lampu listrik belum mendominasi terang malam sebagaimana sekarang — cahaya sinar bulan purnama menjadikan gelap malam bagai terang di siang hari (padange koyo rino). Pesona bulan terang seolah tangan yang melambai-lambai (rembulane sing awe-awe), yang mengajak anak-anak untuk bermain di luar rumah (dolanan ing njobo).

Kata “purnama” adalah istlah Jawa Kuna, yang merupakan istilah serapan dari Bahasa Sanskreta “purnamas”, dalam arti: bulan penuh, hari bulan purnama (Zoetmulder, 1995:805). Istilah ini antara lain disebut dalam kitab Brahmandapurana (20, 134, 161), Udyogaparwa (120), Sarasamuccaya (261.2), Ramayana (5.1, 7.33, 8.88), Hariwangsa (15.7), Bhomakawya (21.3), Sumanasantaka (10.1), Hariwijaya (17.3), Tantupanggelaran (92), Korawasrama (58), dan Kidung Harsyawijaya (4.1). Hal itu memberi petunjuk bahwa perihal bulan purnama telah menjadi pembicaraan dalam dunia susastra setidaknya sejak abad ke-9 Masehi.

Continue reading

Teh Manis

[21.02.2005 || taken from my other blog]

Mungkin kita sering sekali mendengar kata itu ataupun kita salah satu penggemarnya. Memang teh sangatlah bermanfaat bagi tubuh kita tapi benarkah ataukah bisa juga penyebab timbulnya satu penyakit baru yang selama ini tidak kita sadari, misalkan saja kencing manis???
So…, bagaimana sih kadar yang bisa dikatakan manis apabila kita membuat teh di dalam gelas satu sendok tehkah?
atau mungkin satu sendok makankah gulanya??

teh
bagaimana bisa dikatakan terlalu manis jika kita membikin sesuai dengan selera kita sedangkan kita sendiri menyukainya dan orang lain mencoba mencicipi apa yang kita biasa buat dan mereka mengatakan…”oohh…,ini terlalu manis..?!”
Aku pernah mengalami kejadian ini beberapa waktu yang lalu sewaktu “vacation di Bali” dan disaat angin meniupkan hawa panas khas Bali dan dengan sepoi angin yang tidak begitu sejuk aku membuat teh di dalam gelas dengan 2.5 sedok teh gula yang kurasa tidak sebegitu manis karena aku bikin biasanya lebih manis lagi dari apa yang biasa aku buat. Dan teman wanitaku*kusebut demikian karena benar dia wanita tulen… :)* mengatakan kepadaku..”Mas ini bikin kolak teh yach?!”
hah…kolak teh???akupun terperangah kok bisa dikatakan kolak teh??
padahal aku membikinnya sudah aku kurangi gulanya walaupun tidak seperti layaknya tradisi minum teh di Jepang.
Dan teman wanitakupun membuat satu gelas lagi teh untuk dirinya sebagai pembanding teh bikinanku sendiri….dan ternyata teh bikinannya tidak bisa masuk kategori teh manis karena yang kurasa hanya seolah minum teh tawar walaupun telah dimasukkan gula 1 sendok teh.
Dan seperti biasa teman wanitaku ini memberikan sedikit ceramah atau bisa dikatakan nasihat untukku agar aku memperhatikan kadar gula yang aku larutkan dalam minumanku.
Ada benarnya juga sih karena my hole family ada yang terkena penyakit gula…dan malahan Budhe meninggalnya karena diabet…weeeyyy….atut…
Malahan harusnya kita beware ma yang namanya minuman botol atau lazim kita sebut soft drink karena kadar gula dalam soft drink amat sangat berbahaya…*ups..padahal aku amat maniak ma teh botol..*
Sering kita lihat di warung, kafe, ataupun depot menunya bertuliiskan ” Es teh manis” dan terkadang aku sering mampir untuk beli Es Teh Manis dan ternyata tidak semanis yang tertulis…kadang sebel juga dan berujar dalam hati ” ini sama aja ma minum air biasa?!” karena tidak berasa air tehnya apalagi manisnya.

[budayakan mulai sekarang meminum teh dari pada kopi..]

Cinta itu universal

Siang hari kedua karib saya mendatangi rumah dengan cerita mengasyikkan tentang pengalaman pendakian ke Gunung Arjuno, Bukan pendakian yang kerap biasanya ditempuh oleh sejumlah pendaki, tapi ini pendakian spiritual . 

Beda dengan para pendaki biasanya, yang berada di tempat yang dituju (biasanya pada puncaknya) mereka mendapatkan keindahan alam, udara sejuk, dan foto yang menarik. Para pendaki spiritual melalui track yang berbeda dari pendaki gunung kebanyakan. Para pendaki spiritual lebih menemui medan yang menantang, ego yang menghadang, menyatu dengan alam, rasa syukur yang mendalam, mengetahui rahasiaNya lewat pengalaman spiritual masing-masing , dan perjalanan hidup setelahnya ( setelah turun pendakian hidup di gebyar atau di alam nyata/sosialisasi ).

Kadang kita terlalu cepat dalam benak kita mengartikan bahwasannya perjalanan spiritual ke gunung ibarat klenik atau semacamnya, untuk itu perlunya pemahaman kembali tentang apa itu spiritual mungkin lebih jelasnya bisa di search di mesin pencari makna kata dari spiritual itu sendiri.

Spirituality means something different to everyone. For some, it’s about participating in organized religion: going to church, synagogue, a mosque, and so on. For others, it’s more personal: Some people get in touch with their spiritual side through private prayer, yoga,meditation, quiet reflection, or even long walks.

Mereka bercerita tentang 36jam berpuasa, bagaimana kaki yang lebam karena terperosok, menikmati kebersamaan berbuka puasa, menyanyikan lagu kebangsaan, bahu membahu membawa perbekalan, yang mana aku amat sangat ingin untuk juga bersama mereka menikmati nikmatnya perjalanan itu.

“Apa yang kamu dapatkan selama beberapa hari disana?” tanyaku kepada beberapa pendaki tadi dan beberapa kemarin dengan perntanyaan yang sama.

masing-masing punya jawaban yang berbeda sesuai dengan peranannya. ( ntah peranan apa yang di sematkan??)

mereka semua mendapatkan jawaban atas apa yang selama ini dipikir, dicari, dan dinanti. Sebuah jawaban atau pemahaman yang tidak serta merta didapatkan tanpa sebuah gerak laku, tak hanya dalam diam atau dalam ruang ibadat, akan tetapi gerak dalam gebyar berinteract dengan sesama makluk ciptaanNya.

Hanya dengan kasih tak lupa ketulusan serta keyakinan semua dapat terlalui dengan indah, jika tak mendapati selalu sabar dan tak kenal lelah berjuang atas apa yang akan/ingin diperjuangkan.

Cinta itu universal…dalam cinta ada kasih, dalam cinta ada sayang, dalam cinta ada ketulusan, dalam cinta ada keyakinan, tinggal kita mengimplementasikan dalam hidup berkehidupan.

Mungkin nanti tiba saatku untuk bisa sampai puncaknya, mendaki dengan sebuah keyakinan dan menyatu dengan alam.

 

 

Tuhan Seru sekalian Alam.

MUSIUM BENTOEL

Museum begitu penting bagi warga kota, khususnya generasi muda untuk melacak sejarah, baik sejarah masyarakat kotanya sendiri, sejarah tokoh, maupun sejarah suatu institusi. Di Kota Malang terdapat beberapa museum selain Museum Brawijaya, di antaranya yaitu Museum Bentoel yang merupakan salah satu museum yang dikelola oleh institusi swasta. Museum Bentoel, sesuai dengan namanya, adalah museum yang dimiliki oleh perusahaan rokok PT Bentoel. Museum ini berada di Pecinan Kecil atau Jalan Wiromargo 32 Kota Malang. Bangunan museum berdiri di atas lahan seluas 400 m2 dengan dua bangunan dan halaman yang cukup luas.

Memasuki area museum terdapat beberapa kursi tamu yang terletak di kanan kiri pintu masuk. Nama Ong Hok Liong dan lambang PT Bentoel yang berupa umbi bentul atau talas terpampang di sisi kanan pintu masuk. Di museum ini menceritakan tentang pendiri PT Bentoel, Ong Hok Liong bersama istri dan keluarganya. Ong Hok Liong lahir di Karang Pacar, Bojonegoro pada tanggal 12 Agustus 1893. Ong Hok Liong adalah putra tertua dari tujuh bersaudara pasangan Ong Hing Tjien (keturunan Cina Jawa) dan Liem Pian Nio. Semasa remaja, lepas kelas 5 SD ia sempat membantu gurunya mengajar. Pekerjaan utamanya berdagang tembakau. Pada usia 17 tahun dia meninggalkan Bojonegoro menuju Malang. Di Malang ia tinggal di kawasan Pecinan, baru kemudian menetap di Jalan Pecinan Kecil 25. Ia menikah dengan Liem Kiem Kwie Nio pada usia remaja. Pasangan ini memperoleh dua orang anak, Marianni dan Rudy Ong, tetapi juga menggabungkan dua keluarga yang belakangan menjadi perintis Bentoel. Ong Hok Liong meninggal pada 26 April 1967 karena sakit lever. Ong Hok Liong memulai usahanya pada tahun 1925 dengan hanya 12 orang pekerja. Pada tahun 1930 bersama Tjoa Sioe Bian, tetangganya, mengawali bisnis rokoknya dengan nama Strootjes-fabriek Ong Hok Liong, lalu menjadi Hien An Kongsie, cikal bakal PT Bentoel.

Memasuki ke dalam museum terdapat sebuah patung perunggu menggambarkan diri Ong Hok Liong. Di ruang bagian depan juga terdapat sejumlah foto, silsilah, kata-kata filosofi, dan kisah pemilihan nama perusahaan. “Jadi orang harus mau melarat dulu, jangan lantas mau kaya saja”, begitulah salah satu nasehat Ong Hok Liong yang terkenal. Konon, nama Bentoel berasal dari wangsit Ong Hok Liong ketika mengunjungi makam Eyang Jugo di Gunung Kawi. Saat itu Hok Liong bermimpi bertemu dengan seorang penjual bentul atau talas dan sekembalinya dari Gunung Kawi, Hok Liong mengubah semua kemasan rokok Djeruk Manis-nya dengan nama Bentoel.

Continue reading